Sejarah Hanya Milik Orang Yang Berpengaruh


Blog For Free!


Archives
Home
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April

My Links
pemantau peradilan
links hukum
yh
materi tarbiyah
nasyid
mymusic
waspada
mizan
bisnis
bisniskoe
control parlemen
UU
buku tamu
akhwat usu
Mr Zein
harunyahya
penulislepas
e-commerce
Islam baru
hi5
cybermuslim
swaramuslim
bangsamusnah
eramuslim
Ipunk
Kammi
Detik
Gmail
MUI
Republika
Kompas
Hukumonline
Islam Network
Elshinta
BBC
Cetro
Pembelajar
jurnal ilmiah

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog


Counters
Counters
Rumusan Hikmah Bulan Ramadhan
09.26.05 (6:27 am)   [edit]
Pembaca Budiman!

Perkenankanlah penulis untuk menginformasikan tentang “tamu” yang akan datang mengunjungi umat Islam. Sebagaimana seandainya kita ketahui ketika ada tamu yang mau datang kerumah kita, maka langkah yang kita lakukan adalah mempersiapkan dan merapikan tata ruang rumah kita untuk menyambutnya dengan penuh rasa hormat, apalagi tamu yang akan datang itu bukan orang sembarangan. Tentu Anda akan menjamunya dengan pelayanan yang terbaik bukan? Karena esensinya tamu adalah raja.

Tapi maaf Pembaca Yang Budiman! sebab “tamu” yang akan datang ini bukanlah berbentuk manusia, tapi Bulan, ya Bulan Ramadhan sebagai tamu yang mulia. Kenapa dikatakan tamu mulia? Sebab bulan ini selalu mendapat sambutan yang luar biasa hebatnya oleh Nabi Muhammad Saw. Hal itu akan tampak jelas dari ekspresinya menyambut bulan mulia itu, yang bukan hanya tampak pada wajahnya saja, namun lebih dari itu. Ekspresinya terpancar dengan selalunya Beliau meningkatkan amal ibadah sebagai wujud cinta kepada-Nya. Semakin kentara ketika bulan itu pun berlalu meninggalnya, maka Nabi Muhammad Saw pun meneteskan butir-butir air matanya sebagai ekspresi inginnya beliau selalu bersama Bulan Ramadhan untuk mengharungi kehidupannya yang penuh dengan nilai hidup. Hal seperti itu juga ternyata tertular kepada para-para sahabat r.a, yakni sampai-sampai mereka menginginkan kalau bisa 11 (sebelas) bulan yang lain berubah menjadi Bulan Ramadhan. Nah, bagaimana dengan kita?

Secara umum kita sebagai ummat Nabi Muhammad Saw terbagi menjadi kelas-kelas sosial dalam menyambut tamu yang bernama Bulan Ramadhan itu. Ada yang menyambut Bulan Ramadhan dengan semangat menentangnya atau menolaknya, ada juga yang menyambutnya dengan biasa-biasa saja, namun ada juga kelas sosial lainnya yang menyambutnya dengan “luar biasa”. Kelas yang terakhir inilah kelas yang is the best. Mereka bukan hanya gembira secara personal atau kelompok, tapi mereka juga ingin orang lain merasakan hal yang sama dengan yang mereka rasakan. Biasanya mereka membuat acara-acara untuk menyambut tamu yang bernama Bulan Ramadhan tersebut. Penulis tidak tahu apakah penulis atau pembaca yang budiman termasuk dalam kelompok manusia yang luar biasa gembiranya dalam menyambut Bulan Ramadhan? Wallahu’alam.

Pembaca Yang Budiman tentu lebih tahu tentang keistimewaan Bulan Ramadhan yang menjadi hikmah ramadhan. Bulan Ramadhan dirumuskan sebagai bulan kemenangan bagi ummat Islam, hal ini bila kita tilik sejarah yang telah digoreskan dengan tinta emas, yakni Ummat Islam telah menjadi pemenang dalam perang badar pada bulan puasa padahal pada saat itu ummat Islam hanya 1/3 jumlah musuh serta dengan persenjataan yang biasa-biasa saja disamping kondisi fisik yang sedang berpuasa. Juga kita tahu diBulan Ramadhan ummat Islam mengukir prestasi besar dengan dikuasainya kota Mekkah.

Perumusan hikmah itu pun menjadikan Bulan Ramadhan dijuluki dengan bulan training atau pelatihan bagi ummat Islam. Dimana pada Bulan Ramadhan amal ibadah umat Islam baik secara kwalitas maupun kwantitas meningkat. Dan kita bisa saksikan diBulan Ramadhan jumlah orang yang sholat di mesjid begitu meningkat pesat, padahal dibulan biasa hanya beberapa shaf saja, namun diBulan Ramadhan sampai–sampai halaman pun dijadikan tempat sholat dikarena mesjid tidak sanggup lagi menampung jumlah jamaah yang membludak. Tidak hanya itu, diBulan Ramadhan banyak ummat Islam yang berlomba-lomba dalam mengkhatamkan Al-qur'an baik secara sendiri- sendiri maupun secara kelompok yang kita kenal dengan tadarus. Intinya puasa adalah suatu metode pelatihan rutin dan sistematis untuk menjaga fitrah manusia sehingga tetap memiliki sebuah kesadaran diri yang fitrah (god-spot) dan akan menghasilkan sebuah 'Akhlakul Karimah' (Ari Ginanjar:1965).

Dan kita juga menyaksikan akan banyak kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dalam berbuka puasa, serta peningkatan orang yang akan melakukan amal infaq dan sedekah. Hal ini adalah cerminan bahwa bukan ramadhan juga dapat rumusan hikmah bulan solidaritas atau bulan kebersamaan.

Manusia adalah insan yang lemah dan rentan sekali melakukan kesalahan dan bukanlah manusia jika hidupnya tidak pernah berbuat salah.dan dosa. Dibulan ini ampunan Allah Swt sungguh maha luar biasa, dimana 10 (sepuluh) hari pertama adalah rumusan hikmah bulan pengampunan. Hal ini terbukti pada Bulan Ramadhan Allah Swt menutup pintu neraka dan membuka lebar-lebar pintu syurga, serta para musuh abadi (setan) umat Islam dibelenggu atau dipenjarakan.

Dan Bulan Ramadhan juga sangat biasa sekali disebut dengan rumusan hikmah bulan refleksi atau bulan introspeksi diri yang semoga saja refleksi ini bisa dilakukan oleh ummat Islam di Indonesia khususnya sehingga diharapkan bisa memberikan efek positif yang luar biasa bagi negara Indonesia, yaitu Negara Indonesia menjadi negara yang selalu rajin melakukan refleksi sebagai bagian bentuk ketaaan kepada Allah Swt.

Tentu saja pembaca yang budiman masih banyak lagi rumusan hikmah-hikmah Bulan Ramadhan yang ada, karena memang Bulan Ramadhan adalah bulan yang full hikmah. Dan penulis yakin para Pembaca Yang Budiman sudah mengetahui akan hal itu. Namun yang maha penting adalah bagaimana kita sebagai muslim yang insyaAllah akan menyambut dan bertemu dengan Bulan Ramadhan mampu mengambil hikmah dari 'tamu' kita yang mulia itu, serta megikatnya menjadi rumusan ikatan hikmah yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Amin Ya Rabbulfissamaawati wal ardh!#
 
Sejarah Adalah Masa Depan
09.20.05 (4:47 am)   [edit]
Benarkah sejarah telah berakhir?
 
Peta Indonesia
08.30.05 (5:50 am)   [edit]

Saya berharap ada inspirasi lahir dari peta ini :


 
Eksistensi Mahasiswa
08.13.05 (1:45 am)   [edit]

  Apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa bila ternyata mereka tidak mengenal siapa sesungguhnya diri mereka sendiri? Tentu hal ini akan mengalami disorientasi tentang kemana kakinya mau dilangkahkan, dan untuk apa dia melangkah. Akhirnya, kejadian itu telah  melakukan pembohongan bagi sejarah, karena mereka sebagai mahasiswa tak pernak kenal kepada diri mereka. Ini juga berlaku untuk orang lain yang mengamati geraknya, yang tentu tidak akan mengenal mereka (mahasiswa). Betapa kasihannya, ketika sebagai mahasiswa yang tidak dikenal oleh sejarah dan publik.


Mahasiswa melintasi waktu dikampus sebagai salah satu sarana tempatnya menuntut ilmu yang menjadi obsesinya. Dengan harapan namanya  akan menjadi "panjang". Dia semakin laju dalam melangkahkan kakinya untuk mewujudkan impiannya itu menjadi kenyataan yang bisa dibanggakan. Hal ini sekaligus membuat sang orang tua yang telah melahirkan & membesarkannya akan bahagia dengan keberadaan anaknya yang "suskes" secara akademis.


Disamping itu juga, tidak selamanya mahasiswa mempunyai orientasi untuk belajar, belajar, dan belajar. Namun dianya juga tertantang untuk bergelut dengan persoalan sosial-pol itik yang akut, sampai-sampai dia terpaksa menomor-dua kan kuliahnya, akibat disibukkan dengan dirinya  yang ikut aktif dalam keterlibatan isu-isu yang tak pernah habis itu, itu sudah sunatullah, karena apabila isu itu habis atau tamat, maka ber akhirlah pergelutan mahasiswa itu, namun yang namanya isu itu tidak akan pernah habis, oleh itu juga mahasiswa tadi dipaksa untuk selalu bergelut dengan isu, karena memang sudah menjadi hobinya. Intinya isu akan habis bila kehidupan itu habis pula. Betapa mesranya si mahasiswa itu terus beromantika dengan isu yang dianggapnya menarik untuk digeluti, namun dia lupa dengan tugasnya yang satu itu, yaitu "nasib" akademisnya.


Walaupun ruang mahasiswa  ;yang berperan sebagai akademisi plus sebagai aktivis juga ada peminatnya. Ingat! untuk ruang yang ini sepertinya sangat sulit dioptimalkan oleh si-mahasiswa, walaup un hal itu bisa, namun hanya beberapa orang saja. Hal itu dikembalikan kepada Sumber Daya Mahasiswanya. Ketika mahasiswa itu mampu menghadapi semua itu dengan disiplin waktunya, maka dengan mudah sukses keduanya bisa digapai. Namun ketika tidak, maka harus diambil fokus salah satunya, karena masalah fokus ini sangat susah, yang ada hanyalah mahasiswa yang "rakus" dengan keduanya. 


Aku pikir, dan terus aku pikir sampai kini, aku sulit menggolongkan yang mana posisi diriku. Karena kadang keadaanku di akademis membingungku dan orang lain, begitu juga keadaan di dunia aktivisku. Apakah karena diriku masih "asik" mencari, mencari dan mencari? Aku tak tahu, yang aku tahu adalah bahwa saat ini aku masih menjabat sebagai mahasiswa yang sudah habis semesternya. #

 
Prasyarat Success
08.12.05 (4:00 am)   [edit]

Manusia yang hidup pasti mempunyai emosi. Riset yang mengatakan bahwa orang yang mempunyai kecerdasan emosi akan mudah untuk sukses ketimbang orang yang haya cerdas intelektualnya. Kenapa hal ini bisa? Untuk jawabannya, diambil dari sebuah cerita tentang pengalaman 2 orang yang sama-sama kerja dalam sebuah perusahaan. Keduanya ini sebut saja yang satu si-A dan yang satu lagi si-Z.


Si-A mempunyai kecerdasan intelektual yang bagus, sedangkan si-Z kecedasan intelektualnya biasa saja, namuan si-Z ini gampang bergaul dengan orang lain, dalam artian ketika berhubungan sosial jarang mengalami konflik, kalaupun terjadi dia bisa mengatasi dengan kecerdasan emosionalnya.


Singkat cerita mereka pun sudah bekerja samapai waktu 1 tahun. Dalam era 1 tahun di tempat mereka bekerja, terjadi perbedaan, yakni si-A mendapat prestasi  berupa kenaikan gaji, sedangkan si-Z gajinya tetap. Dari kejadian ini bahwa kesuksesan telah diraih oleh si-A karena memiliki kecerdasan intelektual, sedangkan si-Z bisa dianggap "gagal".


Namun sejarah berubah setelah rentang waktu 1 tahun berikutnya, si-A yang tadi mendapat gaji besar dari pada si-Z, prestasinya drastis menurun, hal dikarenakan banyak rekan kantornya yang tidak bisa akur dengan si-A, dikarenakan sikap si-A yang tidak bisa bergaul dan selalu mengecewakan. Banyak rekan kerjanya yang jengkel dengan si-A, akhirnya si-A merasa dikucilkan, dan stress pun menghinggapinya. Kejadian itu tidak bisa diatasi oleh si-A, dia kalah dengan keadaan. Yang tragisnya kejadian masalahnya itu bukan hanya terjadi antar rekannya, namun berimbas kepada atasan, banyak rekan kerjanya yang "menggugat" kepada atasan untuk memecat si-A. Lalu si-A pun mendapat peringatan sampai pada ketetapan akhirnya dia dikeluarkan alias di pecat. 


Lalu bagaimana dengan si-Z? tentu beda, karena si-Z telah mempunyai kecerdasan emosi yang membuatnya dengan mudah berinteraksi dengan rekan-rekan kerjanya, juga karena kecerdasanya itu, si-Z mampu mengambil hati atasannya sehingga prestasinya sangat luar biasa ketimbang si-A yang "sial" tadi. Si-Z menjadi orang kepercayaan dari bos perusahaan itu. Kalau sudah menjadi orang kepercayaan, maka bukan mustahil jabatan "bos" akan digapainya dimasa datang.


Cerita singkat diatas hendaknya bisa dijadikan bahwa kecerdasan emosi lebih unggul dari hanya kecerdasan intelektual. Bahkan psikolog, Daniel Goleman mengatakan 80% jaminan sukses bagi orang yang mempunyai kecerdasan emosi. Sedang 20%-nya lagi untuk orang yang kecerdasanya hanya pada taraf intelektual an sich


Sebenarnya teori ini saya yakini "benar", karena secara empiris sudah terjadi padaku. Tapi memang penemuan manusia tidak pernah usai, bahwa orang tidak hanya harus cerdas intelektualnya (IQ) dan cerdas emosionalnya (EQ=Emosional Quetiont), tapi juga harus dibarengi dengan kecerdasan spiritual (SQ=Spiritual Quetiont). Tidak sampai disitu saja, namun juga harus dibarengi dengan  kecerdasan menghadap i & memecahkan masalah (AQ= Adversity Quetiont), bahkan terakhir juga ada yang menemukan orang harus memiliki motivation inteleqensi (MI) dengan alasan supaya hidup manusia dalam menggapai sukses dipenuhi dengan motivasi yang full.


Wah, banyak kali penemuan ilmiah manusia, tapi saya yakin bahwa akan ada lagi yang menemukan suatu teori-teori ilmiah, tapi siapa penemunya ya?#

 
Berteman Sang Malam
08.11.05 (10:02 am)   [edit]

Entah apa yang menjadi lintasan pikiran ini sampai malam ini aku tidak bisa tidur sehingga  nikma tnya didalam kelelapan malam tidak kudapati. Mata ini sulit terpejam, padahal haknya sebagai mata harus dipenuhi. Apakah ini telah menjadi kebiasaan yang tak bisa dimusnahakan?


Malam! sungguh waktu yang mantap untuk melakukan evalusi diri. Kesunyian malam memberi inspirasi bagi ku. Sungguh bahagialah orang yang bisa memanfaatkan suasana malam dengan kreatifitasnya. Karena malam banyak tersimpan suatu inspirasi-inspirasi keagungan Tuhan. Walaupun begit u, malam adalah tempat untuk istirahat bagi manusia, setelah siang harinya si-manusia disibukkan dengan urusan duniawi yang cendrung melenakan dan membuaikan kita untuk mengingat Allah Swt.


Siang dan malam adalah suatu ketetapan Allah Swt yang tidak bisa dirubah  oleh manusia. Hal ini diciptakan Allah dengan penuh pelajaran. Bisa kita bayangkan kalau saja hari siang terus tanpa ada malam, maka manusia akan jenuh dengan suasana yang begitu-begitu saja, dan tentunya manusia akan sulit menemukan suasana tempat istirahat, karena memang untuk istirahat sangat dibutuhkan suasana yang mendukung. Dengan adanya malam manusia tidak akan susah untuk istirahat. Lalu bagaimana kalau hari  hanya malam terus tanpa ada siang? Ya memang tidak apa-apa. Tapi kalau kita tilik lebih jauh, suasana malam adalah suasana yang gelap, dan setan akan selalu senang dalam kegelapan. Malam bila sifatnya permanen akan banyak mengundang kriminalitas, misalnya : pencurian yang dilakukan dengan maling. Lalu bagaimana manusia untuk menjemur pakaiannya? Tentu semua itu, dengan adanya bersilih gantinya malam dan siang adalah suatu Maha Bijaksana Allah. Karena Dia Maha Tahu apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya.


Malam ini adalah temanku melewati sepi..........

 
Profil Trainer
08.11.05 (4:26 am)   [edit]

 


 


Trainer adalah dunianya salah satu dunia nya para da’i dalam membentuk ummat menuju pencerahan. Karena dengan adanya orang yang mau "nyemplong" ke dunia trainer maka dia menjadi solusi atas penyakit ummat yang akut selama ini. Penyakit ummat yang akut hingga saat ini adalah penyakit “cinta dunia dan takut mati”. Seorang Trainer yang Islami dituntut untuk bisa menghilangkan penyakit itu dari dalam diri  ummat Islam dan memusnahkannya. Karena bila tidak, penyakit itu akan terus menggerogoti eksistensi peradaban ummat muslim yang pada akhirnya peradaban itu hanya tinggal sejarah saja yang enak dibaca namun tidak bisa dijewantahkan.


 


Seorang trainer harus  bisa hadir ditengah – tengah ummat sebagai "cahaya" yang akan selalu memberikan sentuhan-sentuhan melalui kreasi-kreasi produktifnya. Semua itu tentunya bukanlah hal yang susah ketika mau dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, namun bukan juga bukan pekerjaan yang gampang karena tantangan yang akan selalu menghalangi tetap eksis sebelum dikalahkan oleh sikap kepahlawan sejati.


 


Untuk membedakan trainer yang ideal dengan traiber gadungan maka ada beberapa "kode etik" yang harus melekat didalam diri seorag trainer itu, hal ini sebagai imunitas bagi trainer agar bisa & siap siaga dalam menunggu panggilan jihad. Lalu bagaimanakah seorang trainer bias "survive" dengan keadaan yang ada? Juga bagimana kreasi-kreasinya agar bisa diterima oleh ummat? Untuk menjawab hal ini tentu dibutuhkan “obat ajaib” yang bisa sebagai daya ungkit untuk orang yang siap untuk menjadi trainer. Obat ajaib itu adalah,


 


Model : 


Humans → Leader → Trainer


 


H = Harapan


U = Usia


M = Mati


A = Akhirat


N =  Neraka


S = Syurga


 


    & nbsp;   &n bsp;   &nb sp;   Become


    & nbsp;   &n bsp;   &nb sp;   &nbs p;   


 


L   =    Loyality


E   =    Emosioal Quality


A   =    Adversity Quetiont


D   =    Dreams Succses


E    =   Editing Idea Creative


    & nbsp; R   =    Referensi


 


  To


  


 


T = Tren


R = Revolution


A = Aktif


I  = Internal, Interpersonal, Internasional


N = Networking


E = Evaluation


R = Rutinitas


 


Manusia adalah hamba sekaligus khalifah dimuka bumi ini, dengan perannya sebagai manusia dan khalifah dibutuhkan suatu kecendrungan (Trend=T) untuk melakukan perubahan yang sistematis (Revolution Systematic=R). Juga dalam melakukan revolusi sistematik itu seorang trainer harus aktif (Aktif=A), bukan pasif. Karena perubahan itu orientasinya bukan hanya untuk dirinya saja, namun untuk orang lain, bahkan perubahan itu harus dalam skala internasional ( I ). Setelah melakukan tugasnya tadi, seorang trainer harus melakukan evaluasi (E) secara rutinitas (R) agar bisa mengambil hikmah untuk dijadikan pelajaran. Kesemua itu (Humans  Leader Trainer) dilakukan atas peran dan tugas sebagai da'i yang salah satunya cerminan dari implementasi itu adalah proses menyembuhkan penyakit ummat yang akut selama ini.


 


 

 
Hari-Hari Ku
08.10.05 (4:43 am)   [edit]

Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Perkataan bijak ini dikatakan oleh seorang revolusioner terkini, As-syahid HAsan Al-Banna. Beliau mengilustrasikan waktu itu ibarat kehidupan. Begitu juga hari-hari yang aku lalui. Apa yang ada hanyalah rutinitas yang "kadang" terpaksa karena sudah ada kontrak, namun juga terkadang dilakukan dengan "optimisme" yang tinggi karena paham akan balasannya.


Aku saat ini berbagai peran yang kumainkan dipanggung sandiwara dunia ini. Pertama, Aku sebagai Mahasiswa Fak. Hukum UI-Sumut sem VIII. Perjalanan kuliah aku jauh dari prestasi yang "menyejarah", namun penuh dengan kesuraman yang memuakkan. Entahlah, entahlah aku tak tahu, yang pasti ini adalah kesalahan dan kegagalanku dalam mengukir sejarah akademis yang seharusnya menjadi bukti kepada orang tua ku yang telah bersusah payah dalam membiayai kuliahku (maafkan anakmu ibu).


Kedua, Aku juga berperan dalan organisasi di KAMMI, ya KAMMI hanya sebagai prajurit biasa saja. Di KAMMI banyak kutemukan hal yang biasa dan luar biasa. Tidak banyak prestasi yang aku ukir di KAMMI, tapi setidaknya aku secara formalitas kaderisasi sudah mengikuti kaderisasi sampai ke Dauroh Marhalah III (DM-III). Tapi itu bukan ukuran mutlak bahwa kader di KAMMI sudah teruji iman dan komitmennya. Tapi aku sangat senang diKAMMI, apalagi makin hari-semakin terasa bahwa KAMMI itu harus dibesarkan, dan aku pribadi diharapkan bisa membesarkan KAMMI  sesuai dengan tuntutan konstitusi yang ada. Yang kupahami bahwa keberadaanku diKAMMI hanyalah untuk mengasah kecerdasan emosionalku saja, namun di KAMMI saya juga mendapat sentuhan spiritual yang sejuk.


Diorganisasi aku juga pernah menjadi ketua Lembaga Dakwah Kampus UISU yang bernama Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa (UKDM-UISU) periode 2004-2005. Disitu aku merasakan bahwa menjadi seorang ketua itu bukanlah pekerjaan orang biasa, namun orang yang luar biasalah yang pantas untuk jadi seorang leader.  Juga aku ikut aktif  di lembaga trainer yang bernama ILNA Learning Centre, yang saat ini di ketuai Akhi Syahrul Komara, SP. Karena dunia Trainers juga menantang bagiku untuk digeluti. Dan saat ini aku juga masih menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Universitas Partai Pembaharuan Mahasiswa (DPU-PPM UISU). Aku rasakan banyak juga amanah yang terbengkalai.  


Ketiga, Aku ingin mandiri (walapun saat ini belum bisa), paling tidak aku kerja sebagai operator internet disebuah warnet, hal ini untuk menambah 'income", serta aku ingin merasakan bagaimana susahnya mencari duit. Ternyata memang cari duit itu luar biasa beratnya, walaupun Allah Swt telah menjatah rezki hamba-hamba-Nya, namun semua itu kan harus dibarengi dengan usaha dan do'a juga, nah antara doa dan usaha, hendaknya kedepan aku harus proporsional, agar rezki itu kudapatkan.


Aku pikir 3 peran besar itu saat ini menjadi rutinitas yang harus aku jalani dalam menapaki hidup untuk mencari jati diri yang masih kucari dan belum kutemui. Inginnya aku mendapati apa yang telah menjadi cita hidup ini. Sehingga pengembaraan diri dalam dunia petualangan selama ini tidak sia-sia belaka. Untuk aku dapati sejarah yang mau akrab denganku. Dan juga publik bisa mengakui eksistensi hidupku.


Waktu ku tinggal beberapa hari, minggu, bulan atau tahun lagi, semoga bisa kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam rangka bergelut dengan hari-hariku, sebagaimana aku pahami tentang teori-teori managemen waktu. # 

 
Sukarno & Sukarnoisme
08.07.05 (12:25 am)   [edit]



Bung Karno memang tokoh terkemuka yang serba unik.     Manyur Suryanegera, seorang sejarawan dari Universitas Padjajaran Bandung mencatat, Bung Karnolah satu-satunya presiden di dunia yang minta jenazahnya diselimuti bendera Muhammadiyah; bukan Sang Saka Merah Putih, betapapun nasionalisnya dia sepanjang hidup.


Tapi dari Bung Karno pula lahir pemikiran kontroversial yang berhasrat menyatukan nasionalisme, agama dan komunisme. Bila berpidato tentang nasionalisme, Bung Karno berperan jadi Bapak Bangsa. Bila berpidato tentang Islam, Bung Karno laksana pemimpin muslim. Bila berpidato tentang komunisme, Bung Karno adalah marxis sejati. Nampaknya apapun akan ia katakan untuk sebuah Indonesia yang besar dan disegani.

Rosdiansyah, seorang wartawan, penulis dan aktivis yang berdomisili di Surabaya, menuliskan jalinan kuat antara perjalanan hidup Soekarno dengan pemikiran-pemikirannya. Silakan dinikmati.


Sukarno & Sukarnoisme


Sukarno banyak dipuja-puji masyarakat Indonesia. Ia yang lahir pada 6 Juni 1901 dari ayah, seorang priyayi jawa bernama Raden Sukemi Sosrodiharjo, sangat kental diwarnai sinkretisme ajaran Kejawen. Ayahnya menemukan jodoh di Bali, yakni Idayu Nyoman Rai, seorang wanita dari kasta Brahmana. Perkawinan itu tidak direstui oleh keluarga Idayu karena sang mempelai pria bukan dari keturunan Brahmana. Di Bali, Raden Sukemi yang mendapatkan sertifikat untuk mengajar sekolah pribumi, sempat menjadi asisten professor Van Der Tuuk, Sarjana Belanda ahli bahasa Indonesia, yang giat meneliti bahasa Bali. Kakak perempuan Sukarno, Soekarmini, lahir di Singaraja-Bali, sedangkan Sukarno sendiri lahir di Surabaya dengan nama Kusno Sosro Sukarno.

Sukarno kecil sangat menyukai pertunjukan wayang kulit dengan kisah-kisah dari Ramayana maupun Mahabarata. Ia sangat terpengaruh oleh kisah-kisa tersebut. Sehingga Sukarno sangat menyerap ajaran-ajaran Kejawen yang diutarakan lewat wayang. Ia mendapatkan semua itu dari kakeknya, Raden Hardjodikromo di Tulungagung, dari ayahnya di Mojokerto dan juga dari Wagiman, seorang petani. Melalui ayahnya pula, Sukarno diperkenalkan pada ajaran-ajaran teosofinya Annie Besant, Madame Blavatsky dan WQ Judge. Teosofi ini sangat abstrak dan tidak jelas mana agama yang benar, yang jelas didalam teosofi ini semua agama dianggap benar. Kelak, ketika Sukarno telah menjadi presiden, ajaran-ajaran tersebut sangat berpengaruh dalam mewarnai kebijakan politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan.

Pada 1914, Sukarno mulai masuk ke ELS (Europe Lagere School) dimana ia mempelajari beberapa bahasa asing. Salah seorang gurunya memberikan nama panggilan Karel buat Sukarno. Selanjutnya, di tahun 1916, Sukarno belajar HBS (Hogere Burger School) di Surabaya. Ia dititipkan pada HOS Cokroaminoto, seorang nasionalis muslim yang kharismatik. Dari Cokroaminoto, Sukarno mempelajari seni pidato dan retorika. Sekaligus ia meminta ijin untuk mengambil gambar Banteng dari keseluruhan lambang Sarekat Islam, untuk kelak dijadikan lambang gerakannya. Kehidupan bersama Cokroaminoto inilah yang kemudian memperkenalkan Sukarno pada aspek-aspek penting dari paham kebangsaan, fenomena politik dan taktik memobilisasi massa.

Di Surabaya, Sukarno mulai berkenalan dengan aktivitas Indies Communist Party yang merupakan kelanjutan dari ISDV (Indische Sociaal-Democrat Vereniging) yang didirikan tahun 1914 dan dipimpin oleh Hendrik Sneevliet. Sedangkan pemahaman Sukarno tentang Marxisme pertama kali diberikan oleh Alimin, yang bersama Semaun telah memporak-porandakan organisasi Sarekat Islam. Selain itu, Sukarno juga berkenalan dengan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro) yang mendirikan Taman Siswa. Dari Suwardi, Sukarno mempelajari banyak kebudayaan Jawa pra-Islam. Tahun 1921, ia melanjutkan studinya di Technisch Hooge School (THS) Bandung dan pernah menghadiri kongres PKI tahun 1923 yang diselenggarakan dikota tersebut.


Marhaenisme


Marhaenisme diambil dari nama Marhaen yang merupakan sosok petani miskin yang ditemui Sukarno. Kondisi prihatin yang dialami seorang petani miskin itu telah menerbitkan inspirasi bagi Sukarno untuk mengadopsi gagasan tentang kaum proletar yang khas Marxisme. Belum diketahui dengan pasti - sebab Sukarno hanya menceritakan pertemuannya saja - kapan pertemuan dengan petani itu belangsung. Sehingga banyak pihak yang mempertanyakan, benarkah ada pertemuan itu? Ataukah pertemuan itu hanya rekaan Sukarno saja? Belum ada jawaban pasti. Namun, yang jelas, Sukarno mengembangkan gagasan sentral Marhaenisme jelas-jelas bersumber pada Marxisme. Bahkan, banyak yang menyatakan bahwa Marhaenisme merupakan Marxisme yang diterapkan di Indonesia.

Sejak 1932, ideologi Marhaenisme telah mewarnai wacana politik di Indonesia. Dalam bukunya berjudul Indonesia Menggugat, Sukarno sangat menekankan pentingnya penggalangan massa untuk sebuah gerakan ideologis. Menurut penafsiran Sutan Syahrir, Marhaenisme sangat jelas menekankan pengumpulan massa dalam jumlah besar. Untuk ini, dibutuhkan dua prinsip gerakan yang kelak dapat dijadikan pedoman dalam sepak-terjang kaum Marhaenis. Ditemukanlah dua prinsip Marhaenisme, yakni sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Untuk menjelaskan kedua prinsip itu, Sukarno telah mengadopsi pemikiran dari Jean Jaurhs (sosialis) dari Perancis dan Karl Kautsky (komunis) dari Jerman. Ajaran Jaurhs yang melawan sistem demokrasi parlementer digunakan oleh Sukarno untuk mengembangkan sikap para Marhaenis yang wajib taat pada pemimpin revolusi, tanpa boleh banyak tanya soal-soal yang pelik dalam bidang politik.

Sedangkan dari Karl Kautsky, Sukarno makin dalam mendapatkan keyakinan bahwa demokrasi parlementer merupakan sistem masyarakat borjuis yang tidak mengenal kasihan pada kaum yang miskin. Bahkan didalam bukunya yang berjudul "Dibawah Bendera Revolusi", Sukarno benar-benar terpengaruh oleh Kautsky, dengan menyatakan bahwa seseorang tidak perlu untuk menjadi komunis jika hanya ingin mencermati demokrasi sebagai benar-benar produk masyarakat borjuis.

Selanjutnya Sukarno menyatakan bahwa setiap Marhaenis harus menjadi revolusioner sosial, bukan revolusioner borjuis, dan sosok itu dijuluki Sukarno sebagai sosio-nasionalisme atau nasionalisme marhaenis. Namun, pada 26 November 1932 di Yogyakarta, Sukarno menandaskan bahwa Partai Indonesia dimana ia berkumpul, tidak menginginkan adanya pertarungan kelas. Disini jelas Sukarno memperlihatkan awal watak anti-demokrasinya dan hendak menafikan keberadaan pertarungan kelas sebagai tak terpisahkan untuk memperjuangkan kelas lemah yang tertindas.

Kediktatoran Sukarno juga mulai terlihat sejak konsep Marhaenisme berusaha diwujudkannya menjadi ideologi partai. Syahrir dan Hatta yang memperkenalkan kehidupan demokratis didalam Partindo (Partai Indonesia) pelan-pelan dipinggirkan dan kehidupan partai mulai diarahkan pada disiplin ketat dan tunduk pada pucuk pimpinan. Untuk menempuh ini Sukarno tidak menggunakan cara yang ditempuh oleh Lenin yang pernah menjelaskan secara logis kepada kelompok Mesheviks ketika Lenin menjadi diktator. Jalan yang ditempuh Sukarno hanyalah sibuk dengan penjelasan-penjelasan pentingnya keberadaan partai pelopor yang memiliki massa besar.

Bagi Sukarno, menegakkan ideologi Marhaenisme lebih penting ketimbang membangun kehidupan demokratis. Sembari mengutip Karl Liebknecht, ideolog komunis Jerman, Sukarno menegaskan bahwa massa harus dibuat radikal dan jangan beri kesempatan untuk pasif menghadapi revolusi. Meski kelak sesudah kemerdekaan tercapai, penganut Marhaenisme cenderung bergabung dengan partai Murba, namun Marhaenisme ini lebih menyepakati tafsiran Tan Malaka tentang Marhaenisme.


Sesudah Kemerdekaan


Sukarno yang sudah dihinggapi sifat anti-demokrasi jelas tidak bisa menerima sepenuh hati perjuangan menegakkan demokrasi. Praktek demokrasi parlementer diawal kemerdekaan yang dipenuhi aspirasi masyarakat dihapuskannya begitu saja dengan tudingan telah menjiplak demokrasi borjuis. Akibatnya, kekecewaan terhadap Sukarno memuncak menjadi pemberontakan. Apalagi sikap kekiri-kiriannya yang kental telah menjadikan Sukarno hendak membangun aliansi internasional dengan negara-negara komunis (Cina dan Uni Sovyet). Sesudah kunjungannya ke Cina ditahun 1956, Sukarno tampak sangat mengagumi Mao Tse Tung, dan terutama Chou En Lai. Sedangkan hubungannya dengan Hatta makin menjauh. Dalam sebuah kesempatan bertemu dengan dubes AS Hugh S. Cumming 27 Februari 1957, Hatta menceritakan kekurang-pahaman Sukarno dalam mencermati perkembangan demokrasi parlementer.

Sukarno yang awalnya sangat akrab dengan Mohammad Natsir, tokoh Masyumi, mendadak berubah sesudah terjadi perbedaan pandangan politik. Sukarno membangun opini politis yang menyebutkan bahwa gagasan mendirikan "negara" Islam jauh lebih berbahaya daripada sebuah rezim komunis. Opini bertambah kencang dihembuskan saat dikait-kaitkan dengan kelompok DI/TII pimpinan Kartosuwiryo. Tanpa ada upaya untuk memahami latar-belakang terjadinya pemberontakan tersebut, yang sebenarnya merupakan reaksi atas perjanjian Renville Januari 1948. Dimana perjanjian itu telah memperbolehkan tentara Belanda kembali masuk kedalam wilayah Jawa Barat.

Begitupula dengan pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan dan Tengku Daud Beureu'eh di Banda Aceh, yang sesungguhnya merupakan reaksi atas sikap-sikap arogan dan anti-demokrasi dari Sukarno. Namun, kelihaian berpolitik kelompok Sukarno justru membalik fakta dan menciptakan citra buruk atas pemberontakan diatas.

Poros Jakarta-Pyongyang-Peking yang dibangun saat Sukarno sangat akrab dengan PKI telah menjadikan posisi Indonesia makin terpencil dari dunia internasional. Sembari menindas kekuatan demokrasi, Sukarno memprakarsai demokrasi terpimpin (1959-1965) yang sangat jelas merupakan kediktatoran. Untuk mengabadikan kekuasaannya, Sukarno banyak memproduksi simbol-simbol Jawa agar bisa diterima oleh masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Sedangkan hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangga juga mengalami kemunduran dengan dicetuskannya "ganyang Malaysia".

Sukarno mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah dalam negeri dengan mencari musuh di luar-negeri. Berbagai slogan dan propaganda politik diproduksi hanya semata untuk memenuhi hajat Sukarno berkuasa. Mobilisasi massa dikerahkan untuk dikirim sebagai sukarelawan/sukarelawati menghadapi satuan-satuan tempur elit Inggris (SAS) di Kalimantan Utara. Bahkan untuk memobilisasi sukarelawati menggayang Malaysia, Sukarno perlu mengeluarkan Kepres tahun 1964 yang menjadikan Kartini sebagai sosok wanita pejuang Indonesia. Ribuan nyawa melayang hanya untuk menjadi korban ambisi politik Sukarno. Bahan-bahan indoktrinasi dari Sukarno telah melahirkan sebuah ajaran baru selain Marhaenisme. Yaitu Sukarnoisme, yang merupakan ajaran bersumber dari pemikiran-pemikiran Sukarno.

Sukarnoisme banyak diminati oleh mereka yang terpesona pada kharisma Bung Karno (BK), selain juga ada yang mempelajarinya diluar konteks keterpesonaan tersebut. Bung Karno sendiri memang sosok besar dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, sehingga wajar jika dia ditempatkan dalam sejarah sebagai proklamator dan sering dipuja. Tapi, kelompok Soekarnois telah sangat mengkultuskan sosok Soekarno hingga sangat tidak wajar sehingga cenderung kurang obyektif. Ajaran Soekarno disebarkan sembari memberangus prosedur demokrasi.

Di antara ajaran Sukarno yang menyangkut masalah sosial-politik dan sosio-ekonomi yang nampak sangat kuat berada didalam Manipol USDEK (Manifesto Politik Undang-Undang Dasar '45, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia), yang pada dekade '60-an menjadi bahan indoktrinasi pada masyarakat. Arahan-arahan yang dikandung dalam Sukarnoisme lalu dikembangkan sedemikian rupa oleh orang-orang dekat BK, demi kepentingan tertentu. Sehingga rakyat dihipnotis mengikuti apa yang diutarakan oleh Sukarno. Berbagai mitos-mitos bersifat politis diciptakan pula demi tetap mengabadikan kekuasaannya. Baik langsung maupun tidak langsung, banyak orang-orang yang kagum pada Sukarno lalu mendewa-dewakannya.

Kehadiran Sukarno diidentikkan dengan kehadiran Ratu Adil yang berjanji akan membawa rakyat Indonesia ke pintu gerbang kemakmuran dan kesejahteraan. Mitos lain menyebutkan adanya hubungan Sukarno kepada para leluhur masa lalu yang juga telah memegang kekuasaan. Semuanya itu bertujuan untuk tetap mengabadikan Sukarno sebagai lambang kekuasaan tunggal di Indonesia. Pemitosan Sukarno jelas kemudian sangat menguntungkan para politisi di sekitarnya.

* * *

(Dari rubrik Sejarah, Majalah Suara Hidayatullah edisi Agustus 1998). http://hidayatullah.com" title="http://hidayatullah.com" target="_blank"http://hidayatullah.com

 
Romatika KAMMI & Buruh
07.31.05 (6:16 am)   [edit]

BURUH

Begitu miris kita melihat antara idealita dengan fakta yang ada, sangat jauh bak api dari panggang, atau memang mungkin keduanya tidak akan pernah bisa bersatu karena yang satu “betah” berada dimenara gading sedangkan yang satu lagi “terpaksa-betah” berada didaratan yang penuh dengan kekotoran yang mungkin menjijikkan bagi masyarakat umum (sulit mendefinisikannya). Walaupun naluri perjuangan untuk yang dibawah tadi, gerakan moral diimplementasikan juga untuk sibawah tadi yang selalu tertindas, sayang tataran implementasi belum teraplikasi dengan kreatif dan dinamis untuk mencapai legitimasi alam semesta.

Buruh adalah aset dakwah juga yang tidak kalah potensinya dengan strata sosial lain bagi kebangkitan Indonesia, namun amat disesalkan ruang atau lahan dakwah ini selalu dijadikan nomor kesekian. Mungkin karena masalah prioritas atau masalah kedewasaan atau mungkin belum saatnya dakwah menuju sana. Namun tidak bisa tidak bahwa mereka juga manusia yang butuh akan sentuhan- sentuhan “manusia unik”, permasalahannya siapakah yang mau menyentuhnya? Apakah selama ini sentuhan itu sudah pas kena sasarannya, atau malah sekedar menyentuh, biar mendapat pengakuan publik saja, bahwa KAMMI memang gerakan moral yang peduli. Sulit untuk diungkapan karena realitas tidak merata keadaanya.

Dalam lintasan sejarah eksistensi buruh kesannya sangat mengenaskan, ini sangat tampak jelas ketika kita baca sejarah, ataupun ketika kita tidak membaca sejarah ; yakni hanya mendengarkan saja, itupun “mungkin” akan membangkitkan kemauan untuk re-empati-sasi terhadap keluh-kesah plus resah mereka sebagai manusia ciptaan Tuhan juga.

Dahulu, buruh sangat termarginalkan posisi & perannya dalam suatu komunitas yang bernama negara. Tapi zaman dulu tidak dikenal dengan sebutan buruh, namun istilah budak yang digunakan. Dizaman perbudakan kesenjangan sosial sangat luar biasa sekali. Namun sebelum jauh saya tulis tentang budak, ada baiknya kita dudukkan dahulu pengertian budak itu tanpa kita harus berpolemik. “Budak adalah orang yang melakukan pekerjaan dibawah pimpinan orang lain”. Yang dahsyatnya adalah mereka pada zaman perbudakan tidak mempunyai hak apa-apa (Lalu Husni, S.H.,M.Hum : 1964). Bisa kita bayangkan ketika manusia bekerja tanpa mendapatkan hak, padahal sudah melakukan kewajiban, bahkan sudah melebihi kewajiban yang ada dari pekerjaan yang sepantasnya ada. Kalau pun ada pemberian makan, minum dan yang lain-lain, itu adalah bentuk dari belas kasihan semata, bukan karena memang hak dari budak itu. Lalu bagaimana kalau majikannya tidak mempunyai naluri kasihan? Maka bagaimana nasib sang budak itu?

Sejarah fenomenal juga terjadi pada tahun 1877 di Sumba, dimana sebanyak 100 orang budak dibunuh karena rajanya meningga dunia, hal ini dilakukan atas dasar kepercayaan bahwa budak yang dibunuh tersebut akan mengabdi pada tuannya diakhirat (Lalu Husni, S.H.,M.Hum : 1964). Dari sini dapat kita ambil suatu pelajaran yang bernilai, bahwa budak itu milik mutlak tuannya, dalam artian mereka bukan hanya bekerja didunia, namun mitos memaksa mereka untuk kerja juga diakhirat (agama apa ini).

Penyebab kesenjangan sosial ini kemungkinan besar adalah disebabkan faktor ekonomi. Dimana pada zaman dulu manusia atau para raja mendewakan kekuatan ekonominya sebagai power untuk gengsi kehidupan mereka. Kalau bahasa sekarang adalah kapitalis cocoknya. Jadi siapa yang banyak harta kekayaannya maka kendali sejarah ada ditangannya, sementara para manusia yang tidak ada materinya, maka akan menjadi objek kendali dari raja sitangan besi (tirani).

Sejak belakangan ini mulai terasa posisi sosial budak (buruh) sudah mulai tampak membaik, kalau kita bandingkan dengan masa lampau. Buruh sudah maju posisi sosialnya. Hal ini disebabkan mungkin perjuangan mereka bersama orang yang dekat dengan mereka (siapakah mereka?) Dalam memperjuangakan nilai-nilai hak azasi manusia (HAM) sebagai hak mutlak yang harus dipedomani dan diamalkan oleh negara. Dan sekarang ini sudah tidak dikenal lagi istilah budak, namun hanya buruh, sementara buruk sekarang sangat identik dengan tenaga kerja. Makanya didalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, selalu ada kata pekerja/buruh. Karena mau tidak mau para kapitalis itu harus sadar bahwa buruh juga mempunyai peran yang strategis dalam aplikasi kemajuan perusahaannya. Bahkan Imam Malik mengatakan bahwa seharusnya pembagian keuntungan antara penguasa dan pekerjanya 50 : 50. Ini konsep Islam yang bicara, konsep rahmatan lil’alamin. Mudharobah atau bagi hasil. Sayang belum naik kepermukaan nilai Islam ini. Masih menjadi barang yang belum layak jual, padahal punya kwalitas. Dimana perusahaan yang memproduksinya? Siapa distributor serta siapa pula suplyernya? Mengapa produk tersebut tidak “laku” dipasaran?

Dalam Pasal 1 butir 31 UU No. 13/2003 mengatur tentang kesejahteraan, ya sejahtera kata yang selalu kita dengar dan saksikan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia sejahtera berarti aman sentosa dan makmur yang dapat diartikan dengan kata yang lebih mantap, sejahtera = selamat. Makna selamat dalam UU No. 13 / 2003 penafsirannya yaitu : “Kesejahteraan pekerja/buruh adalah suatu pemenuhan kebutuhan dan/atau keperluan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, baik didalam maupun diluar kerja, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempertinggi produktivitas kerja dalam lingkungan kerja yang aman dan sehat” (pasal 1 butir 31).

Bunyi pasal diatas hanya tertera pemenuhan kebutuhan jasmani (jasadiyah) dan rohani (ruhaniyah). Kalau keduanya sudah terpenuhi maka bisa disimpulkan perkerja/buruh sudah sejahtera hidupnya. Saya tidak yakin itu bisa terealisasi, karena manusia sebagai khalifah terdiri dari 3 unsur yakni fikriyah, jasadiyah, ruhaniyah, yang apabila ketiganya harus dipenuhi dengan proporsinya masing-masing, maka manusia akan menjadi makhluk yang ideal. Jadi dalam pasal diatas mengapa tidak diatur tentang pemenuhuan intelektualnya? Apakah pekerja atau buruh dilarang untuk pintar? Karena bisa menjadi bom waktu yang akan meledak. Ya mungkin mereka punya alasan lain mengapa kadar pemenuan nilai intelektual tidak dimasukkan.

Intinya kalau kita runut makna sejahtera yang bisa diartikan dengan selamat, sedangkan selamat ini bisa selamat dunia & akhirat, atau selamat salah satunya.



KAMMI

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sungguh luar biasa kehadirannya di bumi nusantara Indonesia. Dalam waktu yang amat singkat, cuma 7 tahun sudah mampu membangun jaringan sudah hampir di berbagai daerah kota, bahkan luar negri. Disamping itu telah mampu berkompetensi dengan gerakan mahasiswa lain serta “survive” dalam perannya membangun Indonesia kearah yang lebih baik. Tak aneh ketika dalam 7 tahun ini banyak orang-orang yang coba menyusup gerakan ini dan coba menggerogotinya. Namun KAMMI mempunyai sistem keamanan yang “kokoh” dan terjamin keshahihannya. Selincah apapun penyusup itu, akan teridentifikasi juga secara alami. Subhanallah.

KAMMI yang selalu tampil dalam kancah perpolitikan Indonesia, hal ini terpotret secara formal sejak kelahirannya tanggal 29 Maret 1998, sementara secara substansi jauh-jauh sebelum KAMMI itu berdiri. Keterlibatannya dalam pelengseran rezim Soeharto, aktif dalam mensikapi pemerintahan Habiebie serta Gusdur, juga dalam efhoria politik dibawah kepemimpinan Bu Megawati, bahkan sampai Bung SBY pun, KAMMI tidak kalah semangatnya seperti diawal era reformasi pada 98, hanya target dan wacana yang diusung saja yang beda. Perbedaan itu menandakan KAMMI kreatif dalam merespon kondisi sosial-politik yang ada.

Dalam hal melahrikan kader, KAMMI pun cukup produktif, karena pada dasarnya dalam pasal 6 GBHO KAMMI disamping organisasi gerakan( harokatul amal), KAMMI juga organisasi kader (harokatut tajnid) . Walapun dalam men-takwnin kadernya, KAMMI selalu “kerjasama”. Pengkaderan ideologis itu ternyata mampu membuahkan hasil berupa buah yang bermanfaat dan manfaat itu sudah dirasakan khususnya diKAMMI sendiri, juga tanpa melupakan rakyat untuk dilayani.Walapun kita bertanya apakah buah itu berasal dari pohon yang baik (Kasyajarotin Thoyyibah), wallahu’alam. Sambutan positif dan miris tidak menjadikan spirit perjuangan KAMMI itu luntur warnanya, dan menjadi pudar atau tidak berwarna lagi, seperti organisasi kebanyakan. Justru kehadiran KAMMI melalui penestrasi-kreasi kadernya adalah mewarnai ruang dan waktu yang ada bukan malah terwarnai. Singkatnya KAMMI lah pelopor warna gerakan yang demokratis-Islamis yang berusaha mentranspormasikannya kepada publik untuk dikomsumsi dengan lahap.

Disamping didukung dengan perangkat lunak (software) yang sebagian besar menduplikasi risalah Ikhwanul Muslimin, juga saat ini KAMMI sudah mampu memenuhi perangkat keras (hadware) yang semua itu akan digunakan demi kelancaran dan kemaslahatan ummat. KAMMI bukanlah organisasi yang teralienasi dari masyarakat. Tentu dengan keberadaannya yang unik itu, KAMMI berusaha tampil inklusif ditengah-tengah masyarakat, dan usaha untuk terus bergeliat dengan pergolakan yang ada, tanpa mengenyampingkan prinsip-pirinsip yang sudah asasi sifatnya. Jadi penggunaan perangkat-perangkat yang tinggal mengoptimal dan memaksimalkannya saja.


ROMANTISME ITU

Tulisan saya akan lebih merujuk kepada romantika KAMMI dan rakyat, khususunya rakyat kecil yang menjadi bulan-bulanan pemerintah sejak dulu kala. Rakyat takluk dengan sistem negara yang ada, yang membelenggu kreasi mereka. Nah dari situ KAMMI mencoba memutus belenggu dengan akan selalu bersama-sama rakyat menuju dan membangun Indonesia yang harusnya mensejahterakan rakyat kecil. Coba sama–sama kita renungkan bunyi pasal 12 GBHO berkut ini :


KAMMI dan Rakyat

“KAMMI dan rakyat adalah ibarat antara ruh dan tubuh. KAMMI tumbuh dan berkembang di tengah-tengah rakyat. Sehingga, KAMMI akan senantiasa berdiri di bagian terdepan dalam membela kepentingan rakyat, menjadi solusi bagi persoalan mereka, menghubungkan kasih sayang yang damai di antara mereka, dan sekaligus berusaha keras untuk menjadi sebab bagi kemuliaan mereka. KAMMI meyakini bahwa merekalah tujuan dari adanya kontrak sosial kebangsaan, dan merekalah tujuan dari keberadaan syari’ah agama Islam (adz dzaruriyatu al khomsah). Karena itu pengabaian terhadap eksistensi rakyat, apalagi tindakan pendzaliman terhadap mereka, adalah tindakan yang akan senantiasa KAMMI lawan”.

Sungguh kata-kata yang bermuatan moral yang tinggi. Dalam tataran konsep ideal saya pikir tidak ada tandingan. Karena pasal diatas adalah suatu pemeberontakan yang objektif terhadap keadaan yang ada. Rakyat akan kuat ketika bersatu. Juga KAMMI akan kuat ketika berjuang dengan rakyat, sementara rakyat akan kuat ketika mereka sudah cerdas sense politiknya. Maka realita saat ini, dimana rakyat masih belum cerdas dalam politiknya, dikarenakan sistem ideologi tertutup yang akut selama 32 tahun. Maka ketika hak rakyat dirampas dan rakyat belum bisa menuntut haknya agar bisa didapatkanya, disitulah KAMMI ambil peranan, disitulah KAMMI akan lawan siapa yang mengambil hak rakyat. Karena KAMMI dan rakyat ibarat antara ruh dan tubuh. Tubuh tanpa ruh ibarat robot yang tidak mempunyai orientasi hidup yang jelas. Sedangkan ruh tanpa tubuh ibarat makhluk halus. Jadi keduanya memang tidak bisa dilepaskan karena keduanya “jodoh”dari Allah Swt.

Secara teoritis KAMMI dan rakyat adalah kesatuan yang utuh. Bicara rakyat berarti perlu pengklasifikasian, rakyat marginalkah? Ya itulah yang coba saya angkat antara KAMMI dan Buruh sebagaimana judul artikel ini. Membaca teks tertulis dalam Garis-Garis Besar Haluan Organisasi KAMMI, rasanya lucu ketika hal itu hanya menjadi dokumen yang sibuk didebatkan dan diinterprestasikan dalam dialog atau diskusi yang telah membudaya diKAMMI, karena semakin sering kita diskusi, walaupun memang hal itu akan menambah manfaat, yakni berupa wawasan kader meningkat dalam tataran konseptual –teoritis. Tapi yang perlu kita pahami adalah kaum buruh tidak butuh akan diskusi kita, mereka akan bingung ketika melihat semangat diskusi kita yang menggebu-gebu, namun sentuhan kemereka nihil, atau kita alergi menyentuh mereka. Intinya kaum buruh sangat mengharapkan KAMMI hadir ditengah-tengah mereka untuk bercengkrama, mendengar keluh kesah mereka, akrab dengan mereka. Tentu amalan itu adalah sunnah, bukankah Rasul senang berteman dengan masyarakat bawah?

Jadi sekarang kita akan melangkah dalam tataran pengejewantahan konsep yang ada, sesuai dengan sasaran objek kita, tentu tidak harus kita mengenyampingkan kerja-kerja yang lain. Hal ini bukan paksaan namun suatu tuntutan konstitusi KAMMI yang sudah “baku”. Karena tanpa adanya gerak untuk mengaplikasikan konstitusi itu, maka dokumen itu akan selalu menjadi utopis semata. Kita paham bahwa agama Islam adalah agama amal. Kegamangan dalam aplikasi adalah ketidak profesionalan kita dalam melakukannya, dan hal ini tentu tergantung sejauhmana dan sesering bagaimana kita untuk mengulang-ulangnya. Karena sering kita mengulang, maka kegamangan itu akan segera hilang, sirna dimakan oleh waktu yang rakus.

Semoga KAMMI dengan idealitas konstitusinya bisa memberikan hal-hal yang terbaik untuk rakyat secara umum, dan buruh secara khusus. Saya tidak tahu apakah tulisan ini adalah identik dengan gugatan sifatnya. Namun jauh dari itu ini adalah wacana yang terispirasi dan terbentuk dalam format tulisan, saya berharap bisa dipahami maksud dan tujuannya. Ingat Pasal 6 GBHO KAMMI yang mengatakan : KAMMI dan Rakyat adalah ibarat Ruh dan Tubuh, mungkinkah romantisme itu terjalin harmonis? Wallahu’alam! #

Jhon Kennedi Sinaga
Divisi Jaringan & Komunikasi KAMMI Daerah Sumut 2005-2007.
cp     ; : 0813-62265911
email : jenazah_syuhada@yahoo.com


http://www.cybermuslim.net/topics.php?op=viewarticle&" title="http://www.cybermuslim.net/topics.php?op=viewarticle&" target="_blank"http://www.cybermuslim.net/to...;artid=225

 
Militansi
07.26.05 (3:55 am)   [edit]



Senin, 18 November 2002 14:33 WIB





Topo Santoso
Dosen FHUI Kandidat Ph.D di
University of Malaya


Akhir-akhir ini, judi dalam berbagai bentuk dan manifestasinya marak di berbagai daerah. Geram dengan itu, sebagian daerah menyusun Rancangan peraturan daerah (Raperda) Antijudi. Sebagian yang lain dipenuhi unjuk rasa memprotes penegak hukum dan pemda yang terkesan membiarkan dan membisu. Mengapa judi marak? Tidak adakah landasan hukum untuk mencegahnya?


Menurut hemat saya, maraknya judi merupakan akibat kegagalan pemerintah memenuhi jiwa hukum dan jiwa undang-undang penertiban judi yang sudah lebih dari 30 tahun lahir.


Judi bukan masalah baru. Di masa Orde Baru, untuk mengatasi masalah ini, lahir Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian. Undang-undang ini jelas menyatakan bahwa ancaman hukuman dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) untuk perjudian tidak sesuai lagi sehingga perlu diperberat.


Bahkan, pasal pelanggaran judi dijadikan kejahatan dan hukumannya dinaikkan dari satu bulan menjadi empat tahun (Pasal 542 ayat 1), serta dari tiga bulan menjadi enam tahun (Pasal 542 ayat 2).


Meski ancaman hukuman diperberat dan jenis delik diubah (dari pelanggaran menjadi kejahatan), tapi masalah masyarakat ini tidak tertanggulangi. Ada beberapa wacana untuk mengatasi, antara lain melokalisasi judi (biasanya selalu menyebut contoh Malaysia dengan Genting Highland-nya), sebagian yang lain dengan membuat perda di masing-masing daerah.


Ada juga keluhan bahwa penegak hukum kurang antusias memberantas judi di beberapa daerah. Hal itu biasanya dibumbui kecurigaan adanya kepentingan dari bisnis judi yang menguntungkan. Sebagian menyebut bahwa penegak hukum tidak bisa bertindak jika permainan judi itu mendapatkan izin dari pemerintah daerah. Alasan terakhir ini memang bisa ditelusuri dari rumusan hukum yang memang menyatakan bahwa ''.. barangsiapa tanpa mendapat izin..'' atau ''.. kecuali ada izin dari penguasa yang berwenang..''


Judi berizin
Berpijak dari hal itu, penegak hukum tidak berdaya jika para pengelola perjudian atau pemain judi telah mengantongi izin dari pemerintah. Masalahnya juga, dalam rangka mendapatkan pendapatan, izin-izin semacam itu kemudian diberikan karena memang dimungkinkan. Undang-undang 'hanya' melarang perjudian yang tanpa izin. Jadi, selama ketentuan Pasal 303 dan 303 KUHP di atas hanya melarang judi tanpa izin, dan tidak melarang segala bentuk judi, maka secara yuridis penegak hukum akan mengalami kesulitan memberantas perjudian.


Di sinilah, menurut hemat penulis, pemerintah telah mengabaikan 'jiwa dari undang-undang penertiban judi' dan penegakan hukum atas perjudian hanya bersandar pada 'bunyi eksplisit'-nya saja. Pemerintah tidak mampu memenuhi tuntutan politik hukum yang disuarakan lebih dari 30 tahun lalu. Kebijakan hukum atas judi telah dilupakan sejak 1974.


Ada baiknya diingatkan di sini apa harapan pembuat undang-undang penertiban judi. Dalam konsiderans UU No 7 Tahun 1974 jelas dinyatakan bahwa perjudian bertentangan dengan agama, kesusilaan dan moral serta membahayakan penghidupan dan kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara. Nah, memberikan izin usaha perjudian berarti memberikan izin untuk menentang agama, kesusilaan dan moral serta membantu membahayakan kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara. Toh, hal itu tetap dilakukan atas berbagai alasan.


Memang, rumusan dalam KUHP yang menyebut 'kecuali dengan izin' belum dihapus. Tapi, hal ini bukan legitimasi bahwa judi bisa dibiarkan tumbuh sebab konsiderans selanjutnya dari UU 7 Tahun 1974 jelas-jelas menyatakan bahwa tahapan yang harus dilakukan adalah penertiban, pembatasan, hingga penghapusan perjudian dari seluruhnya wilayah Indonesia. Di sinilah letak jiwa undang-undang ini, di sinilah politik hukumnya terletak yaitu berujung pada 'penghapusan judi di seluruh Indonesia'.


Pembuat undang-undang saat itu mengerti betul bahwa cita-cita tadi tidak bisa serta merta terwujud dalam semalam. Oleh sebab itu, tahapannya dimulai dari penertiban, pembatasan, dan akhirnya penghapusan sama sekali di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu cita-cita melokalisasi judi --seperti diwacanakan sebagian kalangan-- merupakan tantangan terhadap politik hukum Indonesia.


Mengapa penulis perlu mengingatkan pemerintah (pusat dan daerah) soal maraknya judi ini? Sebabnya tidak lain undang-undang penertiban judi sejak 30 tahun lalu memerintahkan kepada pemerintah untuk memenuhi jiwa dan maksud penertiban judi yang berujung pada penghapusan sama sekali dari seluruh bumi Indonesia (Lihat Pasal III UU 7/1974).


Hutang pemerintah
Pemerintah masih punya 'hutang' yaitu melakukan langkah konkret menertibkan, membatasi, dan menghapuskan judi. Jadi, salah besar jika yang dilakukan di sejumlah daerah berhenti sampai menertibkan judi saja. Apalagi jika penertiban itu kemudian difahami dengan memberikan izin resmi di satu sisi dan merazia yang tidak berizin di sisi lain.


Kita mempertanyakan upaya pemerintah sejak masa Orde Baru hingga kini yang selama 30 tahun hanya berhenti sampai ronde pertama penanggulangan judi. Entah sampai kapan penghapusan judi bisa terwujud? Yang jelas pemerintahan baru ini perlu diingatkan bahwa jiwa dan politik hukum perjudian selama ini telah diabaikan. Selama pengabaian ini masih berlangsung, upaya untuk mengatasi perjudian yang sangat berbahaya itu tak akan berhasil.


Memang tidak bisa dipungkiri bahwa penegakan hukum (dan pemenuhan jiwanya) tidak semata-mata faktor yuridis dan juga politik hukum. Sebagian kalangan mensinyalir perjudian tumbuh subur karena adanya 'beking perjudian' yang bisa dari kalangan mana saja, termasuk oknum pemerintah ataupun oknum penegak hukum. Tuduhan semacam ini memang bukan hal baru. Sebab dalam kasus kejahatan lainnya seperti illegal logging juga telah diungkap adanya 'beking' semacam itu.


Untuk kasus maraknya judi, adanya dugaan konspiratif semacam itu mestinya tidak membuat pemerintah ataupun penegak hukum berang dan marah. Justeru untuk menunjukkan bahwa hal itu tidak benar, perlu dibuktikan dengan langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah judi. Jika saja pemerintah menyadari bahwa selama ini jiwa undang-undang antijudi telah terkubur, maka langkah pembuatan berbagai perda antijudi yang disuarakan di berbagai daerah tidak diperlukan. Yang harus dilakukan hanyalah melaksanakan undang-undang secara konsisten, melakukan langkah konkrit yang berujung pada hapusnya judi, dan memberi sanksi bagi pelanggarnya (termasuk bagi beking judi).


Sekali lagi, hukum menghendaki agar pemerintah tidak terhenti pada penertiban judi, tetapi menghendaki penghapusannya dari seluruh bumi nusantara ini.


Selasa, 19 Juli 2005 (republika)






 

 
KAMMI & Sutanto
07.13.05 (5:23 am)   [edit]

Apa yang unik ketika dua perbedaan itu kita kaji dengan jeli dan kita kaitkan dalam kancah reformasi yang masih mencari jati diri ini. Apakah terlalu naif atau memang perlu dihubungkan keduanya agar jalannya konsolidasi demokrasi semakin cepat, sehingga dambaan kita sebagai ideolog reformasi itu tidak lagi hanya sebatas mimpi, namun fakta dan kenyataan. Dengan fakta itu, publik pun menyaksikan dan merasakan suatu pencerahan  baru dinusantara ini. Bagaimanakah cara menyatukan kedua perbedaan itu? lalu bila keduanya tidak bisa bersatu, bagaimana?


Sebelum kesana, sejenak saya ajak pembaca yang budiman untuk menukil sedikit saja tentang KAMMI. Secara teoritis kemunculan KAMMI karena mendapat dan memanfaatkan ruang publik yang terbuka lebar, yakni memadukan kampus dengan mesjid, disamping gelisah dengan kondisi yang ketidakstabilan iklim politik juga didorong dengan ideologi yang selalu menginginkan perubahan. Perpaduan itu menjadi suatu kekuatan yang dahsyat dan menggetarkan peradab an pergerakan mahasiswa lainnya. Dan ada yang menganggap sebagai tandingan serta ada juga yang menganggap sebagai mitra perubahan. Namun hal itu bukan menjadi KAMMI bingung dalam melangkah, namun dengan percaya diri dan motivasi yang tinggi, satu, dua, tiga sampai tujuh tahun KAMMI alhamdulillah tetap eksis untuk menjadi ruh disetiap jasad ummat. 


Sementara Sutanto adalah sebagai angkatan terbaik Akademi Kepolisian (Akpol) 1973 ini yang setelah dilantik berjanji dengan komitmennya akan menuntaskan segala bentuk perbuatan  yang jauh dari etika berbangsa yang baik dan benar, seperti perjudian, prostitusi, korupsi serta narkoba dan illegal logging, dan banyak lagi "PR"-nya Sutanto. Bagian langkah prioritas Sutanto adalah memberangus segala bentuk perjudian di Indonesia. Apa buktinya? Memang belakangan ini sudah kita rasakan ada perubahan yang mendasar sekali, seperti kota Medan yang zaman Kapolri Da'i Bachtiar dulu begitu bebasnya perjudian, kini setelah Da'i diganti, si-judi pun malu untuk unjuk gigi, apakah itu togel atau pun jenis KIM. Lalu apa kerja da'i Bachtiar selama ini? stop! Saya tidak akan bahas si Da'i itu, tapi yang kita sorot adalah Sutanto yang dikenal publik mempunyai profil yang berintegritas  sebagai seorang Kapolri. Sampai-sampai ada anekdot tentang kepanjangan Sutanto adalah SUmut TAnpa Togel, ini adalah prestasi beliau sewaktu menjadi Kapolda-Sumut dulu yang terlalu sebentar itu.


Terlalu banyak yang mengatakan Sutanto profesional, sampai-sampai tokoh "terkaya" di Negara Indonesia versi majalah sabili, Hidayat Nurwahid yang juga ketua MPR mengakui hal itu, walaupun beliau lebih menegaskan perlu adanya komitmen yang dibangun oleh Sutanto kepada publik. Agar publik lebih percaya lagi dan lebih yakin kalau kedatangan Sutanto adalah sebagai pilar hukum bukan malah menjadi sambungan alat negara yang memelihara perusahaa n yang menyebabakan kebangkrutan moral bangsa Indonesia. Juga masih banyak lagi sanjungan yang positif kepada Komisaris Jendral Sutanto ini. Namun kayaknya tidak perlu ditulis disini, mengingat Hidayat Nurwahid sebagai Ketua MPR sudah mewakili itu semua.


Mendengar dilantiknya Kapolri yang baru, Komjen Sutanto, muncul wacana-wacana berkembang yang cukup positif dan perlu didukung. Contoh konkrit adalah apa yang mau dilakukan oleh Kamda-Sumut (Nggak tahu KAMMDA yg lain) yang membuat spanduk-spanduk dalam jumlah banyak mendukung Sutanto dalam memberantas judi, karena sejarah sangat tahu sekali, judi di Sumatera Utara sudah menjadi beranak, bercucu dan bercicit. Penulis yakin seluruh keluarga besar KAMMI tentu akan mendukung kinerja Sutanto dalam memberantas segala penyakit masyarakat.


Nah, sambutan KAMMI itu, menjadi jembatan yang akan menghubungkan KAMMI dengan Sutanto. Sepertinya ada kesamaan visi dari keduanya. Yang kalau saja disinergikan akan menjadi keunikan tersendiri dalam wajah reformasi mendatang. Tidak seperti selama ini, dimana polisi selalu menjadi alat yang menghalangi aksi KAMMI (walaupun tidak semua). Dimana polisi hanya menjadi alat negara untuk menghancurkan pejuang-pejuang mahasiswa yang loyal akan peruabahan, yang loyal akan reformasi sejati.    Ketika KAMMI dan Sutanto akan bermitra dalam perubahan, maka tidak diragukan lagi oleh banyak kalangan. KAMMI yang sampai saat ini selalu menjadi pengawal reformasi bergandengan dengan Sutanto yang selama ini dikenal dengan polisi yang bersih.


Sebelum jauh melangkah kesana, perlu dan sangat perlu dikaji lebih  dahulu dan lebih lanjut, kebersamaan yang bagaimana yang akan dibangun antara KAMMI dengan Sutanto. Karena perlu adanya suatu batasan-batasan yang jelas, agar nantinya bisa menjadi pagar pembatas. Hal ini demi menjaga indepedensi KAMMI itu sendiri. Karena walau bagaimana pun Sutanto tetap berada dibawah kekuasaan Presiden Sosilo Bambang Yudhoyono. Dan kita tahu SBY saat ini sangat "bersebrangan" kebijakannya menurut pantauan KAMMI dari janji-janinya dulu ketika masih capres, terbukti dengan kebijakan menaikan BBM. Dan KAMMI bereaksi  menentang habis-habisan kebijakan yang tidak polpulis itu sampai-sampai KAMMI hampir kehabisan energi, dan saa t ini kelangggan BBM pun melanda, KAMMI pun tetap bereaksi dan menantangnya.


Jadi KAMMI dan Sutanto perlu mengadakan suatu kesepakatan bersama, kalau memang diperlukan untuk memberantas penyakit masyarakat. Dan sepertinya dalam hal ini KAMMI yang harus bijak dan berkreasi dalam melakukan aksi dengan memanfaatkan momentum yang ada sebelum dimanfaatkan oleh yang lain. Karena kita pahami dengan umur yang 7 tahun ini, KAMMI bisa melakukan terobosan-terobosan besar. Intinya KAMMI tetaplah KAMMI yang mempunyai paradigma Gerakan DakwahTauhid, Intelektual Profetik, Gerakan Sosial Independen, Gerakan Politik Ekstra Parlementer yang kesemua itu adalah cerminan dari nilai-nilai yang ideal yang terlalu mahal untuk diberi harga dan hanya Allah Swt sajalah yang pantas untuk membelinya. Sementara Sutanto harus tetap pada posisinya sebagai Kapolri yang bekerja sebagai  ;Pelindung, Pengayom dan Pelayan Masyarakat. Dimana tugas memberantas korupsi, perjudian, prostitusi, narkoba dan lainnya adalah memang tugasnya yang harus dilaksanakan dengan komitmen yang tinggi. Jadi bukan terlalu "wah" ketika kita menganggap pekerjaan Sutanto itu luar biasa, namun adalah memang norma yang harus di tepatinya. 


Akhirnya mari kita jalan sama-sama dalam rangka menyongsong perubahan bagi Indonesia yang lagi sedih ini, padahal sebenarnya Indonesia mempunyai harga diri yang tertimbun sejak lama, dan KAMMI lah yang akan membongkar timbunan itu dengan penestrasi-penestrasi&nbs p;paradigmanya yang akan selalu terukir di dalam dokumen-dokumen sejarah dan menjadi referensi untu esok hari.


Jhon Kennedi Sinaga


Jarkom KAMDA-SU 2005-2007 

 
Saya Malu
07.11.05 (4:17 am)   [edit]

Begitu melegendanya nama-nama mereka yang mampu mengabdikan dan menjual diri kepada Yang berhak membelinya. Mereka hidup dengan spirit perjuangan yang dahsyat. Ukuran perjuangan mereka adalah harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Perjuangan yang mempunyai nilai lebih dibanding materi. Mereka yakin akan balasan yang akan didapati, sehingga perjuangan mereka pun jauh dari intrik-intrik yang menyesatkan. Mereka juga manusia yang sama seperti saya, juga mereka tidur sama seperti anda, juga mereka makan sama seperti kita, juga mereka akan mengalami mati persis sama dengan manusia pada umumnya. Lalu apa yang membedakan? Yang membedakan adalah kejernihan mereka dalam berfikir, kebijaksanaan mereka dalam mengambil tindakan, kesungguh-sungguhan mereka dalam berjuang, kedekatan mereka dengan Sang Pencipta alam semesta, kerinduan mereka akan bidadari-bidadari syurga dan ketidak senangan mereka kalau agama ini selalu dihinakan. Itulah yang membedakan.


Mereka berjuang dengan harta, nyawa serta segala yang mereka miliki. Mereka tidak silau dengan gemerlap dunia. Kita tahu pasti mereka, dan kita malu bila dibandingkan dengan mereka. Dan kita rindu bertemu dengan mereka. Melalui merekalah kita ada, dan melalui perjuangan merekalah kita bisa menikmati agama kita. Semua yang mereka perbuat bukanlah mengharap ingin dikenal, ingin di sebut-sebut namanya, ingat! mereka bukan mengejar itu. Tapi mereka kejar adalah syurga Allah yang tak bisa dibayangkan dengan pikiran, bidadari Allah yang spesial, serta kenimatan-kenikmatan syurgawi lainnya yang luar biasa.


Sementara saya hanya bisa membaca sejarah yang telah mereka ukir dengan perasaan "iri" yang akhirnya timbul pertanyaan : Kenapa mereka bisa? Apakah karena mereka orang pilihan? Apakah memang sudah takdir Allah? Apakah..., apakah memang saya yang tak pantas untuk jadi seperti mereka? Serta banyak lagi pertanyaan yang masih mengendap namun tidak saya muntahkan melalui tulisan ini. Karena saya yakin pertanyaan tadi sudah mewakili pertanyaan yang lain. Lalu setelah saya bertanya siapakah yang menjawab? Jawabannya pun sesungguhnya saya sudah tahu, dan anda pun sama yaitu Karena saya memang bukanlah seperti mereka. Saya lebih sibuk mengejar dunia, saya lebih sibuk menghabiskan waktu di kesia-sian belaka, saya lebih suka dengan kemaksiatan dari pada ketaatan, saya lebih keras kepal untuk melampiaskan ambisi buta dari pada keras kepala untuk mau melakukan ibadahku, saya lebih serius dengan kefatamorgaan dunia, dari pada serius dengan strategi dalam kancah jihad.


Inti tulisan diatas adalah "mereka"  ;dan "saya" yang sama-sama manusia dan juga sama-sama mendapat jatah umur untuk hidup. Tapi dalam waktu yang berbeda-tempat yang sama (bumi) kami beda prestasi. Prestasi mereka disaksikan dan diakui oleh alam semesta, sementara penestrasi prestasi yang saya ukir adalah nihil. Kenapa mereka bisa, dan mengapa saya tidak, atau mungkin saya yang belum maksimal? Bisa jadi.


Sekarang ini saya malu terus saya merasa perasaan saya tak pantas dituliskan disini, karena mungkin tidak malah menyelesaikan masalah, namun malah menjerat kepada alam hampa yang fana. Akhirnya saya akui dengan kejujuran yang dalam saya malu dengan mereka dan anda, karena saya bukanlah mereka. Padahal perjuangan yang  mereka perjuangkan untuk saya dan anda (kita). Karena itu saya malu dengan anda sebagai pembaca budiman dan mereka sang pejuang di medan laga.


11 Juli 2005  

 
Menulis Adalah Jihad
07.09.05 (7:33 pm)   [edit]

"Ikatlah ilmu dengan menulisnya"


(Imam Syafi'i)


Saya pernah baca salah satu buku (buku pergerakan-red) yang telah mampu membawa diri ini kedalam hanyutan kata-kata dalam tulisan itu. Mampu memprovokasi diri sehingga bersemangat untuk membaca. Itu adalah salah satu dari sekian banyak "buku yang bergizi". 


Kalau dulu Islam perang dengan musuh menggunakan pedang, maka saat ini Islam perang dengan musuh melalui "pena". Ungkapan ini diucapkan dari DR. Yusuf Qordhowi ketika datang ke Indonesia pada waktu yang lalu. Mengapa bisa begitu? Juga  Panglima perang Napoleon Bonaparte mengatakan : "Saya lebih takut dengan satu orang jurnalis dari pada 1000 tentara perang". Hendaknya kata-kata bijak ini sudah mampu menjadi referensi kita dalam menulis lebih giat lagi. Disamping ibadah, juga kebutuhan  bagi kita, yakni sebagai pengikat ilmu-seperti ungkapan Imam Syafi'i. Karena manfaat menulis tidak hanya kepada diri sendiri, namun lebih luas lagi manfaatnya, ketika memang tulisan itu adalah proses penyebaran informasi  dari Ilahi yang harus didengar oleh alam semesta. Ini tugas kita sebagai da'i yaitu tabligh (meyampaikan) kepada yang berhak menerimannya. Dan ini bukan hanya perkerjaan kita saja, namun jauh kebelakang berabad-abad yang lalu ini sudah dilakukan oleh para nabi dan rosul. Dan kita sekarang adalah pengemban tugas mulia itu.


Banyak cara untuk menyampaikan informasi, tergantung media apa yang menjadi sarananya. Kita harus fokus kepada jihad melalui tulisan, ya jurnalistik. Kenapa ini penting? Karena kita sekarang lagi diserang dengan cara jurnalistik itu, begitu banyak tulisan-tulisan yang membuat otak kita tersusupi dengan adat jahiliyah secara sadar atau pun tidak. Kita sekarang ini bisa melihat dan menyaksikan bagaiman a gilanya media "mereka" membuat kita takluk. Apakah itu media cetak, atau elektronik bahkan melalui internet pun mereka lebih gila lagi. Dan sudah banyak dari kalangan kita yang terhanyut dengan tulisan versi mereka yang sebenarnya tidak layak untuk dikomsumsi, karena tempatnya adalah tong sampah. Bagiamana buku teori evolusi bisa masuk ke sekolah-sekolah? Padahal negara Indonesia mayoritas Islam. Menarik dengan adanya ciptaan buku Harun Yahya dengan judu "Keruntuhan teori evolusi". Sehingga membuat buku karangan Darwin itu takluk dengan argumentasi dari Harun Yahya yang kaya dengan pesan-pesan Ilahi.


Disamping pentingnya menulis, juga yang harus kita pertimbangkan adalah kwalitas tulisan yang akan kita gulirkan itu. Bagaimana bisa tulisan kita mampu menguasai opini kalau tulisannya tidak bermutu? Mustahil!!! jadi tidak hanya asal menulis saja, namun lebih kepada kemasannya. Karena kemasan ini daya pikat yang akan memprovokasi pasar. Bukankah kita disuruh menyampaikan yang baik dengan cara yang baik pula?


Namun sayang wilayah menulis ini tidak begitu diminati oleh kaum muslimin secara mayoritas. Walapun ada tidak begitu signifikan ketimbang "mereka-mereka". Apa sebabnya? tentu banyak sekali apakah itu masalah ilmu jurnalistik yang tidak dikuasai oleh ummat ini (miskin inetelektual) atau mungkin tidak ada waktu mereka untuk menulis. Atau memang menjadi penulis bukan pekerjaan yang menjanjikan. Dan masih banyak lagi penyebabnya yang tidak dapat saya tulis diartikel ini.


Dalam keadaan sempit ada manusia super yang bisa menulis, seperti Sayyid Qutb, Tan Malaka, walaupun latar belakang mereka berbeda, sehingga orientasi mereka dalam menulis pun berbeda pula. Namun kita tidak memandang hal itu disini. Yang kita pandang adalah bagaimana Sayyid Qutb yang berada dalam penjara mampu menulis dengan produktif yang karyanya bisa dirasakan sampai saat ini. Begitu juga Tan Malaka dengan kondisinya yang terjepit, disamping jadi buronan, namun masih sempat menulis. Banyak contoh yang kita sendiri pun sudah tahu.


Dengan tulisan-tulisan Harun Yahya, ummat  jadi tercerahkan, ummat jadi cerdas akan pemahaman Islam dan dapat mengetahui kelemahan ideologi musuh. Ini adalah salah satu hasil yang dapat dirasakan dan dinikmati. Manfaat menulis tadi kepada alam terbentang ciptaan Tuhan. Intinya dunia tulis-menulis adalah dunia perang yang sampai saat ini masih berlangsung. Dan masing-masing memperjuangkan kepentingannya masing-masing pula dengan cara masing-masing.


Menulis itu jihad! Dan permasalahnnya adalah ummat Islam masih terbelakang dalam dunia tulis-menulis. Apa yang harus dilakukan? tentu memberikan pendidikan (tarbiyah) kepada ummat yang mungkin salah satunya adalah dengan menulis, menulis dan tetap menuliskan informasi tentang pentingnya menulis untuk saat ini dan saat masa yang akan datang. Jadi dalam jihad menulis sasarannya adalah untuk menandingi opini dan memenangkan opini  (eksternal), juga untuk melakukan pencerdasan kepada ummat Islam (Internal). Intinya keduanya adalah jihad kita dalam amar ma'ruf nahi mungkar. Kita tulis yang benar-benar representasi dari jihad dan kita coret yang bukan nilai jihad.


10 Juli 2005


 

 
Pohon Yang Baik VS Pohon Yang Buruk
07.09.05 (7:54 am)   [edit]

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.  Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.  Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. 


(Qs: Ibrahim ayat 24-27 )


Sungguh kata-kata yang sangat sarat dengan makna yang dalam bagi manusia dalam memahai dan mau mengambil pelajaran berharga. Karena bila tidak, maka pesan-pesan moral itu hanya bagaikan angin lalu yang tak membekas. Padahal pesan-pesan ayat diatas adalah suatu renungan bagi manusia. Renungan yang harus memang dilakukan. Untuk apa mereka hidup kalau tidak mau mencerminkan kehidupan seperti pohon yang baik (kasyajarotinThoyyibah). Pohon itu mampu menjulang kelangit dan menghasilkan buah yang bermanfaat. Juga dengan pondasi yakni akar yang menghujam kebawah dengan kuatnya sehingga tidak mudah goyah diterpa goncangan yang bagimanapun.


Pohon yg baik diibaratkan seperti manusia yang beriman dan bertaqwa. Dimana hidupnya menghasilkan karya yang bermanfaat bagi alam semesta, tidak hanya untuk dirinya sendiri. Selalu memberikan suatu cahaya ditengah kegelapan yang ada. Bukan malah menambah masalah, namun kehadiran selalu menjadi pemecah masalah yang lagi berkecamuk. Itulah representatif dari pohon yang baik. Tentu untuk konteks zaman sekarang ini sangat sulit mencari tipe orang seperti itu. Ciri khas hidupnya yang melambangkan keagungan Ilahi, bukan keagungan syaithoni. Kejayaanlah selalu bersamanya dalam melintasi sejarah yang tidak mau memisah darinya. Mendapat legalitas dari publik sebagai tokoh yang harus dianugrahi sifat-sifat terpuji yang semua itu bukanlah penuh dengan tipuan yang menyesatkan, namun alami adanya (sunatullah).


Manusia yang baik itu adalah cambuk bagi kemapanan kebahtilan yang ada, ia menjadi penantang sejati dan abadi dengan segala bentuk ketidakadilan dan kedzoliman. Ini adalah suatu fitrah yang tak bisa dielakkan lagi, karena begitulah kodratnya, pohon yang baik akan selalu "mencari" lawannya.


Lalu Allah setelah mengibaratkan pohon yang baik, maka pohon yang buruk pun telah menjadi suatu catatan bagi manusia yang mau mengambil hikmahnya. Ini adalah kebalikannya. Allah gambarkan pohon yang buruk itu sangat lemah sekali pertahanannya dalam menapaki kehidupan.  Bahkan Allah menegaskan pohon yang buruk adalah pohon yang telah dicabut akarnya dari muka bumi, yang tidak dapat tegak lagi. Begitulah manusia yang tidak ada suatu pondasi yang menghujam didalam dadanya. Yang tidak mampu bertahan dipersaingan yang ada. Pohon yang tidak ada nilainya. Inilah cerminan manusia yang tidak beriman kepada Allah, tidak dapat memberikan manfaat bagi alam semesta, namun kehadirannya selalu merugikan, mengganggu dan tidak bermutu, tidak bisa diandalkan karena pondasinya tidak kokoh. 


Kedua tipe manusia diatas adalah nyata adanya dibumi ini. Sebagai sample bagi kita sebagai manusia yang berfikir, yang selalu mengambil pelajaran berdasarkan nilai agama, yang selalu menjerat hikmah yang ada, dan tidak terjebak dengan kepentingan sesaat yang hanya membuat hidup ini sempit untuk dijalani karena ukurannya tidak jelas (abstrak). Tentu semua itu dalam pencapaiannya menuju pohon yang baik adalah proses. Tergantung kapan kita memuali dan kapan kita bersungguh-sungguh dalam memulainya. Kita masing mau menjadi (becoming) KasyajaratinThoyyibah. Itulah misi hidup insan yang diciptakan sebagai muslim. Semoga juga kita dapat cepat menuju menjadi pohon yang baik melalui usaha dan dengan atas izin dari Allah Azza Wa Jalla.(#)


09 Juli 2005

 
Hukum Kita
07.08.05 (5:39 am)   [edit]

Pembahasan tentang aturan hidup sangat perlu. Ini menyangkut masalah kemanusiaan, dan bukan manusia hidup kalau tata kehidupan tanpa aturan yang mengatur. Aturan inilah yang disebut sebagai hukum. Aturan yang menjadi peraturan apakah itu tertulis (Undang-Undang) atau tidak (konsensus) sangat menjamin suatu kehidupan yang nantinya akan memberikan perlindungan bagi masyarakat. Sudah begitu banyaknya peraturan yang ada, dan tentu akan sangat efektit dan bermanfaat jika dipraktekkan sebagaimana mestinya. Hukum ada berma cam-macam atau beraneka ragam. Tinggal semuanya diserahkan kepada manusianya mau ikut, taat, patuh sama hukum yang mana. Ada hukum buatan komunis, barat, dan Islam. Yang istilah disebut dengan eropah kontinental, british anglosaxon, atau banyak lagi versi yang lain. Namun yang menjadi disiplin ilmu yang dipelajari di gedung-gedung perkuliahan ada Eropah kontinental, anglo saxon dan komunis. Semenatra hukum Islam terkesan dimarginalkan.


Hukum adalah produk politik, jadi hukum dan politik adalah suatu sinergisasi untuk kemaslahatan, bukan untuk pembodohan. Campuran politik ini sangat berbeda sekali dan terkadang sangat sulit membedakan putusan mana yang memang murni produk hukum dan putusan mana yang sudah tercemar dengan nuansa politik. Siapakah yang berjasa? apakah politik berjasa kepada hukum atau sebaliknya? Untuk ini kayaknya tidak perlu dibahas disini, karena kurang tepat.


Di Nanggroe Aceh  Darussalam  (NAD) saat ini lagi gencar tentang berlakunya hukum cambuk bagi penjudi, pemabok dan penzina dan sudah beberapa orang yang menjadi contoh dalam eksekusinya. hukum cambuk ini adalah berdasarkan ideologi Islam dan diberlakukan dalam bentuk "Qonun" (perda). Sungguh suatu kebanggan tersendiri bagi umat Islam, dimana Aceh telah berhasil menerapkan hal itu, mudah-mudahan dapat dicontoh oleh daerah lainnya, apakah seperti kota Medan yang kaya akan perjudian, narkoba dan perzinaan. Tentu hal ini akan menjadi atau mengundang reaksi dari kalangan sekuler, karena dengan secara sadar atau tidak doktrin sekuler sudah dipinggirkan. Karena doktrin sekuler yang telah sangat lantang memisahkan agama dengan negara tidak berhasil membawa negara Indonesia menuju puncak kemajuan dan kesejarteraan rakyat, namun yang terjadi adalah kemunduran yang sangat jauh tertinggal dengan negara-negara lain yang dulu pernah kalah jauh dengan negara Indonesia, apakah itu sistem pendidikan, politk, budaya dan lain-lain.


Kendati hukum cambuk sudah dilaksanskan, apakah sudah efektif? sudahkah hukum cambuk itu mampu membuat manusia tobat? sudah mampu menjadikan daerah Aceh bebas maksiat? Tentu ini perlu suatu bukti nantinya dan biarlah sang waktu yang akan menjawab itu. Yang terpenting adalah hukum cabuk harus terus dilaksanakan dengan adil dan tidak pilih kasih.


Lalu bagaimana dengan hukuman bagi koruptor? Apakah mereka tidak perlu dikasih hukuman cambuk? Para terpidana yang dihukum cambulk pada dasarnya menerima perlakuan hukuman cambuk bagi mereka, namun yang disesalkan mereka adalah kenapa para koruptor itu dibiarkan bebas, dan dapat menjalani hidup dengan leluasa. Koruptor yang telah melarikan uang negara, merugikan negara. Kenapa hanya orang yang bermain judi kecil-kecilan dapat dihukum dengan tegasnya, sementara para penjudi kelas kakap dan paus tidak ditangkap.


Memang ini sudah menjadi realitas dimasyarakat kita, dimana hukum bak pisau yang hanya tajam kebawah, sementara keatas tumpul. Apakah ini sudah mejadi budaya yang sudah mapan? Tidak perlu di rubah lagi atau tidak pantas dirubah. Budaya yang telah memisahkan kedudukan orang dihadapan hukum, budaya yang telah menurunkan wibawa hukum, budaya yang telah mencoreng nama negara, budaya yang telah membuat sedih dan kecewanya para nelayan, buruh, tukang becak, kaum proletar.


Akhirnya hukum kita masih sebatas dalam tataran konsep belum terapan yang objektif, kalaupun sudah terlaksana hanya sebatas emosional buta yang menyesangsarakan, dan mengenaskan. Apakah hal ini akan terus dibiarkan? tentu tidak, sekali lagi tentu tidak. Lalu siapakah yang akan merubahnya? Kita tunggu saja nanti.:)


08 Juli 2005

 
Ke-KAMMI-an
06.20.05 (6:20 am)   [edit]


Kastrat KAMMI Komisariat UISU adakan Seminar
Dipublikasikan: 20/06/2005 21:12:31


KAMMI.or.id - Bertempat di Kampus Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Departemen Kajian Strategis UISU mengadakan Seminar dengan thema : “Menjaring Walikota menuju Medan Sejahtera” , pada tanggal 11 Juni 2004. Jam 9.00 acara dimulai hingga jam 16.00 wib. Pada acara itu yang hadir hanya 2 Pemateri, 1 pemateri lagi tidak hadir yakni Ustad Abdulk Halim Hrp (Anggota DPD).


Yang hadir hanya dari Ikatan Da’I Indonesia (IKADI-Sumut) Ustad Drs.Sakhira Zandi, Msi dan Majelis Ulama Indonesia (MUI-Sumut) Bapak Hasan Bakti. Pemateri menyampaikan materi tentang kepemimpinan dalam kacamata agama dan sosial, setelah itu dibuka sesi tanya jawab, ada dari salah seorang peserta yang menanyakan bagaimana tentang peran Ulama yang sudah menjadi pelayan para penguasa sebagaimana fakta di Kota Medan? Dengan ringan bapak Hasan Bakti menjawab (Wakil Sekretris MUI-Sumut), bahwa kita jangan mengejek ulama, karena ketika kita mengejek ulama, maka kita sama saja meludahi diri kita sendiri. Jawaban ini adalah senjata ampuh bagi para ulama untuk mengelak dari jebakan.

Peserta yang sekitar150 orang tampak dengan serius, mendengarkan pemaparan dari Nara Sumber, apalagi ketika materi yang disampai oleh Ustad Sakhira Zandi yang membedah 10 ciri pemimpin ideal dalam Islam, sambil beliau membandingkan dengan kondisi objektif Walikota Medan 5 tahun kebelakang, ternyata jauh dari cerminan profil yang ideal. Hal itu tak terbantahkan lagi ketika Ustad Shakira membedah tentang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah 2005 yang jauh dari mementingkan rakyat kecil. Tapi dengan percaya diri walikota yang dinilai “gagal” itu malah mencalonkan lagi.

Thema ini diangkat karena pada tanggal 27 Juni nanti kota Medan akan mengadakan perhelatan akbar, Pilkadalsung yang terdiri dari 2 calon yang sama–sama kuat : antara Abdilla-Ramli yang didukung oleh 8 partai versus Maulana-Sigit yang hanya didukung oleh 1 partai saja, Partai Keadilan Sejahtera. Disamping sebagai progja, juga seminar ini adalah aksi transpormasi nilai–nilai kepemimpinan Islam sebagai implementasi dari visi KAMMI itu sendiri, agar warga kota Medan mempunyai referensi dalam menentuan pilihannya pada 27 Juni nanti.

Acara seminar itu juga dimeriahkan dengan nasyid & pementasan Theater Bagian Dakwah Untuk Islam (BADUI) yang menggambarkan tentang kondisi kepeimpinan yang penuh dengan adegan sandiwara. Diakhir acara, suasana hening berkumandang dengan do’a yang dibawakan oleh Ketua KAMMI kom’s UISU, akhi Indra Gunawan.
(caesar)


20 juni 2005

 
Kuasa Itu Kita Perlukan
06.20.05 (5:58 am)   [edit]

Kemenangan dalam suatu pertarungan adalah harapan bagi sang petarung. Ini adalah suatu keniscayaan yang harus, dan mendapat legitimasi. Perjalanan menuju puncak kemenangan adalah proses yang kita sendiri pun tak tahu kapan akan terealisasi. Yang bisa kita lakukan adalah hanya menunggu, kalaupun bisa hanya menargetkan, sementara ukuran dan hasil untuk menang adalah bukan hak kita.


Lalu hak siapakah itu? Tidak lain adalah hak Allah Yang Maha Kuasa. Dalam buku Antonio Robins yang berjudul "Unlimitide Power", mengatakan bahwa ketika kita ingin sukses maka kita harus berkuasa. Kuasa disini hendaknya kita pahami dengan nalar yang positif, tanpa terjebak dalam nafsu dunia. memang suatu hal yang logis ketika kita ingin sukses, maka kita harus mempunyai kekuatan, nah kekutan ini adalah kekuasaan, mustahil ada kekuatan tanpa kekuasaan. Juga sebaliknya, masalahnya adalah kekuasaan yang formil atau substansif. Kendati demikian jarang manusia  memahami akan hal ini. Yang ada hanyalah merebut kekuasaan tanpa ada suatu relfeksitas. Makanya bagi orang muslim, kekuasaan adalah suatu keharusan. Tanpa kekuasaan seorang muslim akan sulit untuk menularkan ideologinya kepada sasaran.


Juga didalam Al-Qur'an orang muslim adalah tidak lain sebagai khalifah, ya khalifah dimuka bumi. Predikat khalifah begitu mulia dan begitu berat. Mulia disini kerena tidak ada pun satu makhluk Allah yang diberikan kecuali manusia. Berat karena untuk menjadi khalifah sangat banyak ranjau-ranjau yang senantiasa menghalanginya. Sekarang tinggal manusia itu sendiri yang mengambil dan mengolah predikat itu.


Sungguh pun musuh-musuh itu telah tumbuh dan berkembang dengan giatnya. Inilah adalah peluang bagi khalifah untuk re-eksistensi keadabannya dalam rangka melawan musuh-musuh itu. Esensi hidup ini adalah perang. dan perang sangat beraneka ragam, ada perang fisik, perang pemikiran juga perang ideologi, intinya manusia  yang hidup adalah manusia yang berperang. Perang disini harus diartikan dengan perang dalam skala luas.


Memenangkan peperangan adalah sulit, sesulit mengalahkan lawan. Kemenangan tergantung dari kesiapan dan strategi perang, tanpa ada kesiapan para prajurit beserta perangkatnya dan strategi para komandan atau panglima perang, hal ini mustahil kemenangan akan datang. Sun zhu mengatakan: ketika kita ingin memenangkan peperangan, maka tampillah seperti tidak nampak. Dalam artian kita ada tapi musuh tidak lihat kita, musuh tidak nampak strategi apa yang kita lakukan, juga manuver apa yang akan kita kerjakan. Apakah betul teori ini?


Saat ini di kota Medan tengah berlangsung peperangan politik untuk menuju kepemimpinan Daerah Kota Madya (Walikota). Pertarungan cukup seru karena hanya 2 pasangan yang bertarung (kemana yg lain-red). Si-AR menggunakan konsep teror, karena dengan kekuasaan yg dimilikinya, jadi dengan mudahnya si-AR melakukan teror disana sini untuk mengelabuhi publik. Teror itu berbagai lini dilakukan, langsung atau tidak yg pasti teror. Si-MS menggunakan konsep perang gerilya, ya gerilya. Karena cuma didukug oleh satu partai saja (kenapa cuma satu-red). Mulai dari gerakan bawah tanah (under ground), sampai demarketing, walaupun demarketing ini menjadi bomerang bagi si MS. Manakah yang akan menang? Si-AR dengan konsep perang terornya? Ataukah si-MS dengan strategi gerilyanya?


Intinya kedua petarung itu menggunakan konsep intelijen, yakni ketika musuh lemah, maka gunakanlah teror. Ketika musuh sama kuat, maka lakukanlah konfrontasi. Dan ketika musuh kuat, maka pakailah strategi perang gerlya. Kemenangan satu dari kedua petarung itu  (AR vs MS) saya sangat menantikannya. Karena tanpa ada yang menang atau yang kalah,  suatu pertarungan belum dikatakan "seru". Oleh karena bagi kita sebagai Muslim hendaknya memahami arti "kuasa", juga tidak sampai disitu, namun kejarlah kekuasaan itu, karena untuk benturan peradaban saat ini, Kekuasaan itu sangat kita perlukan. "Unlimited Power"? Mengapa tidak?   


20 juni 2005

 
Vonis Sejarah
06.06.05 (6:49 am)   [edit]

Kenangan indah itu masih terasa hingga kini. Entah kenapa bisa begitu, saya pun tak tahu. Ya, mungkin karena manusia itu akan selalu akrab kepada hal yang indah. Sementara untuk hal yang buruk manusia itu trauma, bahkan untuk mengintipnya saja, manusia alergi. Apakah itu fitrah atau kemauan manusia kepada sejarah. Padahal baik dan buruk kenangan itu pasti membuahkan pelajaran yang sangat berharga. Yang bisa menjadi bekal untuk melangkah kedepan, hal ini adalah ketetapan sejarah yang diakui oleh sejarah juga. Namun tidak semua manusia bisa bertindak sesuai itu.


Banyak pelajaran yang dapat kita petik dalam nuansa iman yang akan terukir didalam sanubari kita sebagai manusia yang telah melintasi sejarah. Beberapa abad yang lalu kita pernah terkesimak dengan kisah fir'aun yang tenggelam dilaut merah, juga kita pernah dengar kisah yang lain. Ini bisa kita petik, dan kita mendapat untung dari itu. Apakah itu? Ya kita tidak perlu melakukan kejadian seperti fir'aun, cukup kita ambil saja nilainya. Dan juga banyak lagi tentu "laba" kita.


Kapan kita ingin untuk bisa meratapi hal yang ada, karena memang kita juga menginginkan segala yang ada menjadi hal yang memang kita inginkan, meskipun keinginan kita cendrung kepada hal yang disalah - alamatkan oleh kita sendiri. Kita lebih sering tenggelam kepada buaian asmara yang semu, yang selalu membohongi kita, padahal kita tahu akan itu. Bahkan kita tidak sekedar tahu, namun sudah mau untuk meninggalkanya, tapi karena peluang ke-"situ" masih lebih besar, maka kita lebih memilih hal itu. Ini adalah bukan rekaan semata, namun suatu fakta, ya fakta yang harus kita terima dengan legowo, disamping kita juga harus mengintrospeksi diri kita secara objektif, sehingga akan menghasilkan suatu kecerdasan dalam mengambil hikmah dari gejala - gejal yang ada. Kalau ini tidak kita lakukan, maka akan ada kemadulan potensi bagi diri kita. Ini menjadikan kita juga harus merasakan bahwa kita juga perlu dinamisasi dalam kehidupan yang sangat sebentar ini.


Setelah, dan sesudah kita dahului, kita saksikan dan kita akan hadapi yang nanti, tentu akan termaktub dalam sejarah, bahwa kita harus mengambil semua itu dengan catatan kritis demi suatu petualangan yang akan kita jalani kedepan, juga sebagai bekal bagi kekuatan yang akan kita persiapkan, dari itu kita semua bisa mendapatkan manfaat yang luar biasa tentunya. Semoga saja sejarah tidak menvonis kita karena kecelakaan sejarah yang kita lakukan, namun hendaknya sejarah memberikan penghargaan (award) yang pantas untuk kita, sesuai dengan apa yang kita kerjakan dan dengan apa kita mengerjakannya. ini adalah hukum alam yang jelas menghasilkan suatu terobosan sejarah bagi kita. Terobosan yang sangat dahsyat adalah terobosan yang akan dilakukan oleh orang yang paham akan dahulu, sekarang dan yang akan datang.


Kesemogaan kita akan terukir dalam lembaran sejarah yang masuk dalam urutan yang diperhitungkan, yang akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang, serta menduduki puncak karir yang tak bisa terlukiskan dengan kata pernghargaan yang diberikan, hanya Yang Maha Kuasa sajalah yang tahu akan re-eksistensi hidup ini dalam lintasan sejarah. Juga kesempatan untuk tergilas sejarah sekuat tenaga akan saya lawan dengan kemampuan yang telah ada. Kecelakaan - kecelakaan sejarah akan selalu menjadi refleksi bagi kehidupan saya, sehingga mungkin atau tidak mungkin saya akan tantang sejarah dengan lantunan, tulisan dan kreasi yang inovatif. Semoga juga anda semua.

 
Aspirasi Suci
06.05.05 (7:39 am)   [edit]

Kendati kita ingin untuk hidup ditengah pertarungan yang sedang berlangsung, namun kita sangat perlu untuk mengkaji dengan pisau analisis yang yang dimiliki tentang sejauhmana kita telah mampu menggelorakan didalam diri kita tentang implementasi yang ada, sehingga ingin sekali eksistensi kita teraktualisasi dalam lini - lini kehidupan.


Kita masih menatap dan menaruh harapan yang sangat besar terhadap apa - apa saja yang kita perjuangkan hari ini, apakah itu secara kolektif atau secara sendiri-sendiri. Harapan itu menghujam menjadi suatu spirit yang sangat dahsyatnya, sehingga mampu membangunkan srigala yang lagi tertidur pulas, atau membuat merinding setan - setan penggoda durjana, serta bisa memanaskan air yang dingin. itulah kita! Karena yang kita bawa ini bukanlah sampah yang didaur ulang oleh pemikiran - pemikiran, atau barang rongsokan yang terbuang karena tidak ada fungsinya, tapi yang kita bawakan adalah "cahaya" yang mampu memberikan penerangan jiwa yang padam, menerangkan mata yang tak melihat, memberi petunjuk kepada tangan yang hanya meraba, serta memberi harapan kepada kekecewaan yang selalu mendera. Kita sangat tahu sekali apa yang kita bawa untuk mereka, bahkan bukan hanya sekedar tahu, namun paham. Kepahaman yang melekat ini tentu adalah bom waktu yang akan meledak dengan kuatnya untuk mehancurkan sehancur - hancurnya kepongahan yang lemah itu. Kajian yang unik untuk hal ini ada di mata jiwa.


Walaupun mereka tertawa dengan ekspresi yang ada didalam diri kita, mereka bingung dengan langkah kita, atau mereka geram dengan kenekatan kita. Hal itu adalah hal yang lumrah, karena sudah menjadi sunatullah, bahwa didalam jagad yang bernama alam ini, ada hal yang secara terus - menerus saling berlawanan, yaitu : Konfrontasi abadi (al-haq wal bathil). dalam berbagai sisi dan relung kehidupan, pertempuran itu masih berlangsung sampai saat, bahkan detik ini. Ini semua tidak lain ada peluang bagi kita untuk mengenyam tempat yang akan kita peroleh nanti disana, ya disana. Tempat peristirahatan kita yang kekal, tempat kita berpesta, tempat dimana kita akan selalu hidup dalam kedamaian yang tiada habisnya, bahkan tidak bisa diukir dengan kata-kata atau tulisan ini. Itulah hidup bagi kita dan mereka yang terseleksi dengan rapi.


Tidak masalah apakah kita akan taklukan mereka, atau kita yang takluk. Yang paling penting adalah sudah sejauhmana kerja kita untuk menaklukkan mereka, dengan apa kita sudah persiapkan itu semua. Karena kemengan hakekatnya adalah milik dan hak Allah Yang Maha Kuat, bukan hak kita, kita hanya petarung yang diuji dimedan perang untuk berjuang secara habis - habis berkorban, apakah harta kita, anak kita, waktu kita, atau apa saja yang bisa kita korbankan dijalan yang mulia ini.


Kenyataan yang harus kita hadapi adalah benturan tuntutan itu kian terasa, geliat aspirasi kita yang suci sudah mulai unjuk kekuatan di tataran wacana, bahkan sudah sampai pada aplikasi yang dinamis. Ini membuat kalang kabut aspirasi kotor yang selama ini sudah keenakan dalam kekuasaannya yang dititipkan padanya. Mereka sudah tidak tidur nyenyak lagi, kini mereka sudah merasakan dahsyatnya serangan yang kita gencarkan kepada mereka, intinya mereka sudah bersiap - siaga untuk menjerat, menghambat , serta upaya lain yang akan mereka gulirkan demi menangnya aspirasi kotor mereka. Kita juga dengan keahlian yang kita miliki ini, seharusnya semakin menguatkan peradaban yang kita bawa, namun peradaban yang akan terwujud bila "Apirasi Suci" itu tetap kita koarkan, tetap kita suarakan dengan lantang didunia manapun kita dicampakan. Hal ini adalah wujud kita yang esensi bahwa hidup kita ada misi perubahan yang mulia, dan tak mungkin bila kita hanya hidup tanpa adanya aspirasi yang kita bawa sebagai oleh - oleh mulia bagi mereka, ya bagi alam semesta.


05 Juni 2005

 
Sentuhan Itu
05.07.05 (7:47 pm)   [edit]

Kumerasa, bahwa hidup ini adalah perlu suatu inspirasi yang bisa mampu mendobrak eksistensi diri ini dari keadaan yang pasif menuju keadaan yang aktif atau boleh ke proaktif - produktif. Karena dengan dobrakan itu akan terbentur kan oleh realita yang ada dan menantang realita yang belum ada atau akan ada, walaupun entah kapan adanya. Diantara kedua itu, ada yang bisa disebut dengan proses atau transisi kearah keadaan yang sudah terbawa dengan doktrin idealita yang menginspirasi kebutuhan hidup yang mutlak harus dipenuhi, dan jika tidak, maka akan mengakibatkan multi player effect bagi masa depan estafet kehidupan.


Sesungguhnya manusia tidak ingin lari dari garis- garis besar yang itu menuntut manusia untuk mematuhi dan taat kepadanya. Walaupun itu tidak sesuai dengan nurani dalam dirinya, serta bertentangan juga dengan nafsu jahatnya, haruslah ditopang dengan keimanan yang memuncak pada prilaku manusia itu, agar tidak terbawa kepada hal yang mubadzir. Bila saja hal itu tidak teraktualisasi bagi kehidupan manusia maka dia dapat dicap sebagai orang yang telah membangkang dari ketetapan yang sudah berabad- abad lamanya disanggupi oleh orang yang dilegalisasi keamuannya berdasarkan kepahaman yang dimilikinya. Kemapanan itu telah mengkristal sehingga tidak ada satu inspirasi pun yang berhak dan mampu untuk membantahnya, kalaupun ada itu tidak akan lama bertahan dan juga tidak mampu melawan statement - statement yang mengagresinya. Ini adalah ketetapan yang mutlak.


Dalam menjalankan ketetapan yang mutlak itu, sangat diperlukan suatu sentuhan - sentuhan yang memang benar - benar menyentuh ruang yang sensitif untuk disentuh. Ketersentuhan itu sangat tergantung dengan kekuatan menyentuh dan keterbukaan yang disentuh, tanpa kedua ini makan sulit menjamin keberhasilan sentuhan itu. Dan kita harus jujur akan hal itu. Nah, bagaimana teori sentuhan yang bijak? Apakah perlu dilakukan suatu "riset" untuk menghasilkan atau menjawab pertanyaan diatas. Sepertinya pertanyaannya cukup sederhana, namun juga sangat berat dalam melaksanakan dan menemukan suksesnya. Ini menandakan bahwa kita perlu mendapatkan teori aplikatif yg harus dipahami oleh kita secara proporsional tentunya.


Panjang jalan yang akan diderita dan disuka oleh sosok yang esensinya adalah manusia. Sejauhmana manusia bisa menikmati hidup yang dideritanya, atau sejauhmana manusia bisa menjerit dengan keadaan sukanya. Ini membutuhkan suatu kedewasaan berfikir dalam taraf yang komprehensif sehingga tidak menjadi pengkultusan pada sisi lain.


Keletihan yang ada tentu ada sifat yang harus dirasakan dalam mengharungi kehidupan yang tak tahu akpan akan berakhir atau diakhiri. Karena biarlah semu aberjalan dengan kodratnya asal jangan lari dari etetatapan yang ada. in kita rasakan bahwa jeritan yang ada dalam hati ini adalah lantunan yang harus didengarkan, tanyakan mau apa dianya, jangan kita kesampaingkan atau disepelekan, namun pekalah terhadapanya, karena hal itu adalah perbuatan yang bijak. Jangan sampai jeritan itu didenagar dan terespon oelh pihak luar yang sebanrnay tidak pas dalam mencapurinya, padahal hal in terjadi akan membuat ruwet permasalahan yang ada, malah tidak akan menyelesaiakn, malah menamabah beban drita kita sebagai manusia masalah. Oleh itu perlu di kaji lagi. Kepekaan kita


Ketika memang kita tidak begituingin hl itu ditumpukan kepada pihak lain, maka sudah barang tentu kita harus mampu mengatasai hal itu dengan kecerdasan yang kita mililki. jalan yan telah kita lalui hendaknya menjadi guru yang kita bisa belajar banyak darinya. 

 
Oase Bernama Laskar Cinta
04.22.05 (2:51 am)   [edit]
Rabu, 20 April 2005

Oleh :


Ahmad Dhani
Pimpinan Band Dewa



Penulis merasa kaget dan terhenyak saat membaca segmen Horison harian Republika, edisi 17 April 2005, khususnya pada tulisan berjudul besar Laskar Cinta Sensasi Keblabasan Dewa. Tulisan tersebut berupaya mengupas pentas Band Dewa yang ditayangkan secara langsung melalui Trans TV, Ahad (10/4). Sebagai pihak yang terkait, dalam kapasitas pimpinan Band Dewa, penulis menganggap tulisan tersebut bersifat sepihak. Penulis tidak pernah dimintai konfirmasi tentang hal tersebut, meskipun ada pernyataan dari pihak manajemen Dewa.


Terdorong oleh faktor itulah, penulis membuat tulisan jawaban dalam kerangka memberi informasi dan pemahaman yang sebanding sehingga para pembaca, dan masyarakat Indonesia pada umumnya dapat mencernanya secara proporsional dan fair.


Dengan segenap kerendah-hatian, penulis ingin menyampaikan bahwa peristiwa tersebut, demi Allah, benar-benar murni sebuah musibah tanpa kesengajaan, terutama akibat ketidaktahuan team setting panggung Trans TV. Sebagai pribadi yang berupaya terus menerus untuk tawadlu' dan tunduk kepada Allah SWT, penulis dan anggota Band Dewa pada umumnya, tidak mungkin memiliki niat melakukan tindakan penghinaan kepada Allah yang Maha Agung, sebuah tindakan yang keji dan kotor. Meskipun barangkali penulis bukan seorang Muslim yang telah sempurna dalam menjalankan semua syariat, penulis berupaya untuk tetap takzim.


Penulis memahami sepenuhnya akibat terlukanya hati saudara-saudara seiman, terutama jika penulis sampai hati melecehkan atau berbuat tidak terhormat. Dalam hal ini, penulis sangat berharap adanya masukan-masukan dari saudara-saudara seiman. Sekeras apapun masukan tersebut, asal tetap dilakukan dalam koridor persaudaraan seiman, yakni dipenuhi nasihat serta pertimbangan kebijaksanaan yang luhur, akan penulis terima dengan lapang dada. Tetapi penulis merasa tidak habis pikir jika kemudian muncul hujatan-hujatan yang serba menyudutkan, memfitnah, dan memprovokasi.


Berkali-kali dunia ekspresi seni di Tanah Air diguncang oleh hal yang serupa, yakni ketika seni dibuldozer dengan penafsiran atas keyakinan-keyakinan tertentu. Para penafsir berlaku seolah-olah Musa menghujat Firaun, meskipun ia belum tentu seperti Musa, dan yang dihujat juga belum tentu seperti Firaun. Tanpa harus menghakimi siapa yang benar dan siapa salah, cara-cara semacam itu tidak pernah menghasilkan solusi yang positif bagi kedua belah pihak. Bukankan Rasulullah sendiri menganjurkan agar dakwah dilakukan dengan cara-cara yang baik dan bijak.


Lirik lagu Dewa
Di sisi lain, penulis juga sangat berharap para kritisi, yang juga saudara-saudara seiman, mau sedikit meluangkan waktu membaca sebagian lirik-lirik lagu dalam album Laskar Cinta, dengan penuh ketelitian dan sedikit perenungan. Lirik-lirik tersebut memuat dengan kental luapan cinta kepada Sang Khalik, juga usaha penulis untuk melakukan ''sedekah'' bagi-Nya. Bukankah sedekah yang tulus dan tersembunyi lebih bermakna, meski perlu waktu untuk mengetahuinya dengan jelas.


Mungkin di telinga sebagian pendengar lagu-lagu Dewa, cinta yang temaktub adalah sangat rendah maknanya, sangat duniawi, tapi bagi mereka yang cermat tentu akan menemukan ''cinta'' kepada-Nya. Ini dapat disimak dari lirik lagu Pangeran Cinta antara lain ''siapa yang masih tinggal dan eksis di saat semua ciptaan musnah'', bukankah Dia Allah yang Hayyun Qayyum (QS. 55:27). Apresiasi akan sebuah hadis Rasulullah riwayat Imam Bukhari, juga telah mendorong penulis untuk menulis lirik lagu Satu. Demikian juga lagu Hadapilah dengan Senyuman adalah inspirasi dari sabda junjungan kita Muhammad SAW tentang mulianya sedekah dengan senyuman serta diilhami firman Allah tentang dosa putus asa (QS 12:87).


Kekaguman kepada Sayyidah Rabi'ah Al-Adawiyah, membawa penulis kepada perenungan tentang pengabdian kepada Allah tanpa pamrih, menginspirasi penulis mencipta lagu yang saat ini tengah populer dibawakan Chryse. Memang harus saya akui ada lirik-lirik komersil yang sengaja saya selipkan dalam beberapa lagu.


Contra effect laskar
Dalam keadaan semacam itu, perilaku menginjak-injak kemuliaan Allah yang sangat penulis yakini sebagai pembimbing hidup satu-satunya, adalah suatu hal yang kontradiktif dengan keimanan penulis sendiri. Demi Allah Yang Maha Tahu, peristiwa di Trans TV itu murni akibat ketidak-mengertian kawan-kawan akan makna sesungguhnya simbol tersebut, bahkan para personel Dewa pun tidak. Semuanya saya simpan dalam-dalam di lubuk hati saya.


Adapun pemakaian simbol mulia, di samping karena memenuhi syarat estetika, adalah dalam rangka ingin memenuhi harapan besar akan tersebarnya kasih sayang Allah ke segenap hati umat manusia. Penulis meyakini akan firman Allah bahwa ''Dia adalah Tuhan alam semesta''(QS. 1:2); ''Tidak hanya Tuhan kaum Muslimin semata, tetapi Tuhan semua manusia'' (QS. 114:1). Lambang bintang delapan melambangkan delapan penjuru angin sebagai simbol ke mana saja kita berpaling di sana ada wajah-Nya (QS. 2:115).


Semua pemahaman di atas adalah murni penafsiran penulis dalam memahami ayat-ayat kauliyah maupun kauniyah. Penulis tidak bermaksud menggurui, hanya merasa perlu menjelaskan semuanya karena penulis tidak menginginkan musibah ini berkembang menjadi luka membusuk yang tidak saja merugikan penulis sebagai Muslim namun juga mencoreng wajah kita sendiri, dan menanamkan kebencian terhadap sesama. Apapun kekurangan pada diri penulis, penulis adalah saudara seiman, dan menyembunyikan aib sesama kaum beriman itu suatu perbuatan mulia. Adapun judul album Laskar Cinta sama sekali bukan sebuah satire untuk Laskar Jihad yang sangat terkenal, namun murni idiom saya dan beberapa sahabat yang perduli dan tergugah tatkala sering mendengar, melihat, dan membaca betapa kata ''laskar'' sering diartikan secara sepihak dengan konotasi negatif, oleh sebagian kalangan. Jihad sendiri terlalu sering diberi makna sempit sebagai perang, dan dikaitkan dengan tindakan-tindakan anarkhis oleh mereka yang tidak memahami maknanya yang hakiki.


Maka penulis dan beberapa sahabat mencoba menawarkan sebuah oase kesejukan dengan menggabungkan kata ''cinta'' dan ''laskar'', tentunya juga bukan cinta dalam artian sempit seperti yang selama ini populer. Penulis berharap dengan demikian ada contra-effect yang ditimbulkan (tentu dalam jangka panjang) hinga tidak selamanya kata ''laskar'' harus bersanding dengan kata ''jihad'' dalam artian sempit.


Penulis sungguh sangat menyesalkan tulisan yang mebenturkan penulis dengan saudara-saudara sesama Muslim, juga terhadap Laskar Jihad yang secara pribadi penulis tidak pernah menaruh kebencian kepada mereka sedikit pun. Apalagi secara jujur harus penulis akui bahwa saudara-saudara yang tergabung dalam Laskar Jihad telah banyak berbuat untuk umat ini dibandingkan sumbangsih penulis pribadi.


Penulis juga bertekad untuk selalu mencoba berdiri di atas dan untuk semua golongan. Namun sebagai individu Muslim, penulis berkeinginan untuk bebas mengutarakan cita-cita mulia tersebut tanpa harus mengorbankan saudara-saudara yang sangat penulis sayangi. Terlepas dari itu semua penulis secara pribadi menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun atau pihak manapun yang merasa tersinggung akan ucapan atau tindakan penulis selama ini. Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih atas tegur sapa, juga kritik membangun yang ditujukan kepada penulis dan Dewa. Insya Allah, penulis akan berusaha berbuat lebih baik lagi bagi agama, bangsa, dan negara tercinta.


Khusus kepada Bapak D Sirajuddin AR, penulis sampaikan syukran atas husnuddzon-nya. Allah merahmati kita semua dan sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha pengasih. Penulis akan nukil beberapa bait puisi Rumi untuk kita renungkan:


Ketahuilah, bahwa segala yang kasatmata adalah fana,
Tapi dunia makna tak akan pernah sirna.
Sampai kapankah engkau akan terpikat oleh bentuk bejana?
Tinggalkanlah ia:
Pergi, airlah yang harus engkau cari!
Hanya melihat bentuk, makna tak akan engkau temukan.
Jika engkau seorang yang bijak, ambillah mutiara dari dalam kerang.

@Inisial:n